Jun 6, 2017

Falling into Place

0


REVIEW FALLING INTO PLACE

Judul: Falling into Place
Penulis: Amy Zhang
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: POP (Imprint KPG)
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: 327 halaman
ISBN: 978-602-424-199-5

Blurb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan?

Review:

Kadang bunuh diri diasosiasikan dengan pribadi yang pendiam dan terkucil. Liz Emerson tak seperti itu. Dia bukan gadis muram yang menarik diri dari dunia. Alih-alih seperti itu, Liz termasuk golongan cewek populer di sekolah. Dia suka mabuk-mabukan dan ikut pesta di sana-sini. Dengan sifatnya yang liar, Liz seolah memperlihatkan dirinya yang tangguh di hadapan orang-orang, termasuk sahabatnya Kennie dan Julia. 

Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Liz. Liz begitu pandai menyembunyikan kesedihan dan penyesalan atas apa yang dia lakukan. Dia merasa segala hal buruk yang terjadi merupakan kesalahannya. Sayangnya, Liz tak bisa memperbaiki apa yang menurutnya sudah rusak tersebut. Alhasil, Liz makin merasa 'tenggelam' dan 'tak tertolong'.

Sebenarnya, Liz tahu dia mengalami depresi yang mahaparah. Dengan ibu yang sering bepergian, perasaan sepi yang dirasakannya begitu hebat. Hanya saja, saat dia hendak meminta tolong, Liz sangat merasa gengsi. Liz memang gadis yang keras kepala. Terlebih dengan reputasinya, rasanya aneh sekali orang seperti Liz bisa mengalami depresi. Yang Liz tidak tahu, kesedihannya makin lama makin tak terbendung. Dan, ketika dia sudah mencapai batasnya, Liz tak peduli lagi akan keselamatannya sendiri. Yang dia tahu, dia harus mengakhirinya, sebelum semuanya bertambah parah. Karena bagi Liz, untuk hidup pun, dia sudah tidak layak lagi.

***

Awalnya aku sama sekali tidak berniat beli buku ini. Tanpa pertimbangan buku ini bagus atau jelek, recommended atau tidak, aku langsung comot saja di sebuah olshop, karena harganya tergolong murah. Aku sama sekali tak menyangka akan sangat menyukai buku ini. Aku memang tahu buku ini tentang cewek yang hendak bunuh diri (yang mana genre favoritku), tapi aku tak menyangka isinya lebih dari itu. Buku ini benar-benar membiusku, membuatku berkali-kali berhenti membaca, karena tak tahan dengan nuansa suramnya. Selalu ada perasaan sesak tiap mengetahui apa yang dirasakan Liz Emerson. Bab demi bab mengantarku memahami alasan yang membuat Liz mantap mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakkan mobil.

Depresi memang bisa dialami siapa saja. Tak terkecuali Liz yang dilabeli cewek populer. Dengan bab-bab pendek dan alur yang maju-mundur di novel ini, aku mencoba mengakumulasikan kejadian yang dialami Liz yang membuatnya tertekan dan memutuskan untuk bunuh diri. Mulai dari kecelakaan yang dialami ayahnya, kecanduan sahabatnya Julia akan marijuana, aborsi yang dilakukan Kennie, video Liam yang disebarkan Liz... dan masih banyak lagi yang lainnya. Liz merasa dia lah biang keladi dari semua hal itu. Liz memang ceroboh, dia belum mengerti tentang konsekuensi atas perbuatannya—meski awalnya dia melakukannya demi membalas sakit hati sahabatnya sendiri. Bahkan dari hal iseng yang dilakukannya, Liz tak tahu dampak yang ditimbulkan begitu besar dan menakutkan. Ya, terkadang hidup memang seperti itu. Kita tak tahu bagaimana roda hidup seseorang berjalan, terlebih ketika kita ikut andil di dalamnya.

Terlepas dari perbuatan buruk yang dilakukan Liz, aku merasa empati dengan apa yang dia rasakan. Rasanya aku ingin memeluk Liz saat dia merana dan merasa tak berharga sambil berkata, "Kamu memang bersalah, Liz. Tapi itu semua bukan kesalahanmu." Hmm... mungkin aku terlalu menghayati bacaan dan terbuai dengan penderitaan Liz, jadi aku sampai berpikir begitu. Hahaha. Tapi, kuakui itu semua tak terlepas dari narasi menawan Amy Zhang yang membuatku larut dengan ceritanya. Ah ya, terjemahannya pun bagus sekali. Itu juga poin plus kenapa aku begitu terhanyut dengan apa yang dialami Liz.

Untunglah, novel ini berakhir baik, meski tak bisa dibilang happy ending. Yang jelas, Liz mendapatkan kesempatan kedua. Menurutku, Liz pantas mendapatkannya. Dia layak dicintai dan berharap hal-hal baik akan terjadi. Setelah kecelakaan parah yang dialaminya, aku tahu hal itu pasti akan mengubah kepribadian Liz.

Overall, aku puas dengan novel ini. Aku merekomendasikan novel ini bagi siapa pun yang memang suka tema cerita tentang bunuh diri. Nuansanya memang kelam, tapi itu tak mengubah pesan yang ingin disampaikan Amy Zhang di novel ini. Berhubung aku suka cerita yang gloomy dan menekankan pada kondisi kejiwaan seseorang, Falling into Place masuk menjadi salah satu buku favoritku. Yep, I definitely love this book!!

Last, karena banyak sekali kalimat yang quotable, aku menaruhnya di postingan tersendiri. Bisa dicek di sini untuk lebih lengkapnya. Selamat membaca! :)

Falling into Place

0


Quotes Novel "Falling into Place"

Sulit untuk berbohong ketika kebenaran tengah sekarat di hadapanmu (hal. 44)

Kennie memang seperti itu—dia suka diperhatikan. Sementara Julia tidak menyukai perhatian dan Liz tidak sadar kalaupun diperhatikan, Kennie membutuhkan perhatian sebagaimana orang-orang tertentu membutuhkan kokain. Dia jenis orang yang gemar berkata-kata bombastis supaya orang-orang melongo. Dia senang dipandangi dan dibicarakan serta dihakimi, sebab itu artinya seseorang selalu memikirkan dirinya. Demikianlah arti popularitas baginya, dan Kennie, sesungguhnya, senantiasa populer dari dulu. (hal. 51)

Julia juga masuk kelas ini, tapi dia benci berdebat. Bukan berarti dia tidak cakap—dia mungkin bisa memenangi setiap perdebatan hanya dengan kekayaan perbendaharaan katanya—namun dia tidak memahami yang mutlak-mutlak. Dia tidak memahami apa sebabnya satu pihak mesti mutlak benar dan pihak satunya lagi mutlak salah. (hal. 85)

Tetapi sebagian dari diri Liz bertanya-tanya apakah Melody tahu bahwa Liz membutuhkan waktu enam belas tahun untuk memahami (dan itu pun hanya dengan mengambil kutipan Gandhi yang dia temukan di buku pelajaran sejarah): kalau mata dibalas mata, maka butalah seisi dunia. (hal. 102)

Dia mengenal banyak orang, banyak sekali orang, tapi untuk apa? Berapa banyak yang sungguh-sungguh dia pedulikan? Berapa banyak yang sungguh-sungguh peduli padanya? (hal. 117)

Aku tidak perlu mengendalikan ketidaksukaanku kepada umat manusia. Ketidaksukaanku menggila sendiri. (hal. 171)

Liz Emerson memperhatikan sekelilingnya dan melihat bahwa hukum tidak perlu diikuti asalkan kita bisa berkelit sekalipun melanggarnya. (hal. 176)

Lucu, ya? Orang-orang, maksudku. Mereka hanya mempercayai yang bisa mereka lihat. Yang penting cuma penampilan dan tiada yang mempedulikan seperti apa hatinya. Tidak ada yang peduli bahwa hatinya tersayat-sayat. (hal. 177)

Buku pelajaran membuat dunia terkesan hitam-putih dan menarik garis pembatas yang tak dapat diganggu gugat antara yang mungkin dengan yang tidak mungkin, seolah-olah segalanya sudah ditulis hitam di atas putih dan Liz hanya perlu terus bernapas. (hal. 180)

Anehnya, menyebarkan rumor dan menikmati kepedihan orang lain justru membuat ketagihan. Tidak ada yang sanggup menampik daya tariknya. (hal. 216)

Sebagian orang meninggal karena dunia tidak layak menerima mereka. Sebaliknya, Liz Emerson tidak layak berada di dunia. (hal. 260)

Hal paling buruk kalau kita sudah dilupakan adalah—menurutku—masih memperhatikan. (hal. 282)

Semua orang mengenakan topeng, Liam menyimpulkan, Dia sendiri begitu. (hal. 295)

Hidup ini lebih dari sekadar sebab dan akibat. (hal. 318)

May 20, 2017

Wonder Fall

0


REVIEW WONDER FALL

Judul: Wonder Fall
Penulis: Elektra Queen
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, Juli 2016
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-602-70362-6-0

Blurb:

SHE SAID...
Amelie Rashad memilih untuk menggigit lidahnya kuat-kuat ketimbang mengakui kalau debaran hebat jantungnya disebabkan oleh Zach Barata. Dia lebih suka melihat Zach sebagai atasan galak dan perfeksionis ketimbang sosok hangat yang juga begitu mudah akrab dengan putri semata wayangnya.

HE SAID...
Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga Amelie menyusup dalam ruang pribadi, menggedor keras-keras pintu hatinya. Alih-alih menyerah, sikap menentang perempuan itu membuat Zach bertambah penasaran. Ketika mengetahui status orangtua tunggal Amelie, ketertarikan itu kemudian menyublim menjadi rasa hormat.

IS IT LOVE?
Percik-percik perasaan di antara mereka kedua nyata adanya dan tak satu pun mampu menyangkalnya. Namun, ketika Zach siap untuk membuka hatinya, dia malah mendapati perhatian perempuan itu terbelah karena rencana perjodohan dengan kembaran mendiang suaminya. Sudikah Zach bersaing dengan laki-laki yang mengingatkan Amelie pada sosok dari masa lalunya? Atau, sebaiknya dia membiarkan saja hubungan mereka kembali seperti semula, selayaknya atasan dengan asistennya?

 Review:

Status janda membuat hidup Amelie Rashad tak lagi mudah. Sering kali muncul selentingan gosip mengenai dirinya, meski interaksinya dengan lawan jenis tergolong biasa saja. Sebagai perempuan dewasa, Amelie tak bisa membendung pikiran negatif orang-orang mengenai dirinya. Ia pun mencoba menjadi ibu yang baik demi putri semata wayangnya Elsa dan berusaha melupakan prahara dengan suaminya yang meninggal karena kecelakaan.

Kesabaran Amelie teruji saat Jonas, bosnya di kantor memintanya menjadi asisten Zach Barata. Zach terkenal sebagai pribadi yang ketus, sinis, dan tanpa ampun. Dengan sifat yang buruk tersebut, sudah beberapa kali Zach memberhentikan asistennya. Melihat reputasi Zach, tentu membuat Amelie was-was. Apalagi Zach bukan tipe laki-laki yang mau berkompromi. Untunglah ketika mereka bersitegang untuk pertama kali, Amelie berani menyuarakan pendapatnya mengenai cara Zach berkomunikasi. Zach pun mau menuruti keinginan Amelie untuk lebih bisa meredam nada sinis pada kata-katanya.

Hubungan Amelie dan Zach tak lagi kaku dan mulai mencair saat Lionel, keponakan Zach datang ke kantor. Lionel terlihat menyukai Amelie. Amelie yang tahu Lionel kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan, merasa kasihan pada Lionel. Lionel mengingatkannya pada Elsa yang juga kehilangan sang ayah. Tanpa bisa dicegah, Amelie pun jadi menyayangi Lionel. Bahkan saat Lionel keracunan makanan, Amelie mau menunggui anak itu di rumah sakit, meski Zach tak memintanya sama sekali.

Hidup Amelie makin rumit saat mertuanya yang suka ikut campur ingin agar Amelie menikah dengan Otto, saudara kembar suaminya yang selama ini hidup di luar negeri. Sikap Amelie yang kurang tegas seperti dimanfaatkan mertuanya itu. Amelie pun jadi bimbang. Di satu sisi, ia tak memiliki perasaan apa pun pada Otto. Kedekatan putrinya Elsa dan Zach pun menjadi pertimbangan tersendiri. Ia tak mungkin bersama Otto yang tidak disukai putrinya. Terlebih selalu ada sensasi aneh tiap ia berdekatan dengan Zach, meski Amelie belum yakin apa yang dirasakannya tersebut.

Pada akhirnya, Amelie harus memilih. Amelie belajar bahwa ia tak bisa selalu menyenangkan semua pihak. Meski itu berarti ada pihak yang kecewa, tapi ia tahu itu yang terbaik bagi dirinya dan putrinya Elsa.

***

Tak bisa dipungkiri, status janda sedikit berkonotasi negatif bagi sebagian orang. Hal ini bisa dilihat dari olok-olok yang biasa didengar, seperti, 'Dasar janda kegatelan' yang kerap ditujukan pada janda. Amelie sebagai tokoh utama novel ini pun berpikiran serupa:

"Suka atau tidak, sebagian masyarakat kita masih beranggapan kalau janda itu adalah status nyaris hina yang dianggap sebagai ancaman. Yang orang tahu, para janda cenderung suka mengganggu laki-laki lain, baik yang masih sendiri atau sudah punya pasangan. Kesepian adalah alasan utama yang dipercayai." (hal. 107)

Meski tak semua orang melihat status janda sebagai sesuatu yang negatif, tapi Amelie seakan menerima mentah-mentah opini tersebut. Itulah sebabnya ia begitu berhati-hati dalam bersikap karena tak ingin ada orang yang menggunjingkannya. Untunglah keluarga Amelie dan Zach terus mengingatkan Amelie kalau ia harus mulai mengubah pola pikirnya, karena tak ada yang salah dengan statusnya. Amelie tetap wanita yang berkepribadian baik, pekerja keras, dan pencinta anak-anak. Menurutku pribadi, inilah yang ingin ditekankan penulis. Bahwa siapa pun yang berstatus janda harus lebih menghargai dirinya sendiri dan tak usah peduli dengan omongan orang lain.

Dalam kehidupan berumah tangga, pasti ada saja masalah. Dalam novel Wonder Fall, masalah Amelie yang paling krusial berhubungan dengan mertuanya yang suka ikut campur dan kebiasaan buruk mendiang suaminya yang berbuntut panjang, bahkan setelah suaminya tiada. Aku salut dengan sikap Amelie yang begitu dewasa dalam menyikapi masalah yang menimpanya. Mungkin awalnya Amelie cenderung sungkan dan terlalu memikirkan orang lain, tapi pada akhirnya situasi mendewasakannya bahwa kebahagiaannya tak boleh didikte orang lain.

Sebagai novel bergenre romance, banyak sekali adegan dalam novel ini yang membuatku tersenyum. Interaksi Amelie dan Zach—baik di dalam dan di luar kantor—sanggup menumbuhkan chemistry yang kuat di antara keduanya. Terlebih kehadiran Elsa dan Lionel seakan menguatkan ikatan antara Amelie dan Zach, yang mana keduanya begitu menyayangi anak-anak.

Seperti yang diketahui, Wonder Fall adalah juara pertama kompetisi menulis yang diselenggarakan Twigora dengan tema Sweet and Spicy Romance 2015. Tentu para juri punya pertimbangan sendiri saat memutuskan Wonder Fall menjadi juara pertama. Saat menamatkan novel ini, aku sedikit paham kenapa Wonder Fall merebut perhatian juri. Pemilihan tema dan konflik dalam Wonder Fall sangat apik dan menarik untuk diikuti. Dengan semua kelebihan tersebut, Wonder Fall layak mendapat tempat di hati pembaca, karena novel ini tak hanya menyajikan roman antara dua insan, tapi juga sekelumit kisah seorang janda beserta keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Mar 19, 2017

Percy Jackson's Greek Gods

0


REVIEW PERCY JACKSON'S GREEK GODS

Judul:  Percy Jackson's Greek Gods
Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi: John Rocco
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Juli 2015
Tebal: 402 halaman
ISBN: 978-602-0989-88-4

Blurb:

Siapa yang bisa mengisahkan tentang awal mula kelahiran Dewa-Dewi Olympia lebih baik daripada demigod masa kini?

Sesungguhnya, Percy Jackson benar-benar tak ingin mengusik Dewa-Dewi Olympia dan membuat mereka marah kepadanya. Namun, demi keselamatan sesama blasteran atau demigod, dan juga para manusia, Percy pun berbaik hati mempertaruhkan nyawanya menuliskan semua yang dia ketahui tentang Dewa-Dewi Yunani Kuno dalam buku ini. Semua dilakukannya agar kita bisa mengenali mereka dan bertahan hidup saat bertemu mereka—yah, siapa tahu tiba-tiba mereka muncul di hadapan kita.

Jadi, jika kau menyukai kisah nyata penipuan, pencurian, pengkhianatan, dan bahkan kanibalisme, bacalah terus, karena jelas inilah Masa Keemasan bagi semua hal mengerikan itu. Bagi kalian yang masih awam dengan mitologi Yunani, maupun yang sudah sangat paham, buku yang sangat menghibur ini akan membuat kisah-kisah dari masa lampau itu jadi relevan dan sulit dilupakan.

Review:

Sekarang saatnya untuk berkenalan dengan para dewa-dewi, secara lebih dekat dan personal. Hanya saja waspadalah, sebagian dari kisah mereka mungkin akan membuatmu merasa sama seperti Kronos usai menenggak segelas penuh nektar mustard. (hal. 61)

Jujur saja, aku awam dengan mitologi Yunani. Memang aku sering mendengar nama Zeus, Hades, atau Athena. Tapi kisah-kisah mereka? Ehm, aku masih belum tertarik mengulik secara mendalam mengenai kehidupan dewa-dewi Yunani. Pada dasarnya, aku memang malas membaca hal-hal yang berbau sejarah atau legenda. Yang ada di bayanganku, kisah mereka pasti membosankan dan (bisa saja) sama sekali tidak menarik.

Tapi, semua asumsiku itu terbantahkan ketika aku membaca Percy Jackson's Greek Gods karya Rick Riordan. Kesan pertamaku adalah... WOW!! Seriously, buku ini amat sangat menarik! Malah aku tak menyangka ternyata mitologi Yunani itu seru juga. Terutama sifat para dewa-dewinya yang kelewat ajaib. Lewat narasi Percy yang lucu, aku diantar untuk menyelami awal mula kehidupan, munculnya titan, cyclops, tangan seratus, dan tentu saja kisah para dewa-dewi Yunani yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Percy mengawali buku ini dengan menceritakan dewa pertama yang bernama Kaos (Chaos). Dari Kaos, terbentuklah Bumi yang menjelma sebagai manusia bernama Gaea. Tak lama, muncullah sang langit yang bernama Ouronos. Dari Gaea dan Ouronos, lahirlah para titan, cyclops, dan tangan seratus. Tak lama, terjadi pemberontakan di mana Kronos membunuh Ouronos, ayahnya sendiri. Bersama Rhea, Kronos memiliki anak dewa-dewi yang rupawan. Sayangnya, Kronos hobi memakan anaknya sendiri akibat takut kutukan kalau anaknya akan merebut tahtanya menjadi kenyataan.

Bab-bab selanjutnya mulai menceritakan tentang dewa-dewi Olympus. Semuanya diceritakan secara berurutan, mulai dari Hestia, Demeter, Persephone, Hera, Hades, Poseidon, Zeus, Athena, Aphrodite, Ares, Hephaestus, Apollo, Artemis, Hermes, dan terakhir Dionysus. 

Dari semua dewa-dewi itu, favoritku adalah Hades. Alasannya karena aku memang suka makhluk muram dan murung macam Hades. Menurutku daripada sosok yang tampan, cantik, atau menawan, penampilan dan sifat Hades lebih membuatku tertarik. Meski penampilannya muram, tapi sesungguhnya dia memiliki hati yang lembut. Misalnya saja waktu Hades diam-diam membuatkan taman untuk Persephone. Yah, walau tak bisa ditampik kalau Hades seorang penguntit dan pelaku penculikan Persephone, tapi Hades tak pernah berbuat kasar pada Persephone. Dia melakukan hal itu karena memang tulus mencintai Persephone. Aw, menurutku itu so sweet sekali. Hehehe.

Ah ya, kekuatan buku ini selain dari narasi Percy yang selalu sukses bikin ngakak, juga ada pada ilustrasi buatan John Rocco di dalamnya. Ilustrasi berwarnanya membantuku mengimajinasikan sosok-sosok dalam mitologi Yunani. Misalnya saja Hera yang dikisahkan memiliki wajah ningrat dan kecantikan yang tak terjamah (hal. 118). Atau sosok Ares yang diibaratkan sebagai sosok yang layak disembah para penggertak, bandit, dan preman di seluruh dunia (hal. 269). Bisa dibilang, ilustrasi buatan John Rocco benar-benar menginterpretasikan sosok-sosok yang diceritakan Percy di buku ini.

Hera

Ares

Saat menamatkan buku ini, jujur aku merasa puas sekali. Buku ini sangat menghibur dan membuatku yang sedang dalam mood malas membaca, jadi semangat membaca lagi. Meski ada kisah yang bertemakan penipuan, pencurian, pengkhianatan, dan bahkan kanibalisme, tapi sesungguhnya tak semenyeramkan itu. Mungkin karena Percy menceritakannya secara menarik disertai humor-humor yang cerdas, jadi tak semenakutkan yang terlihat. Malah terkesan lucu dan membuatku tak sabar untuk melanjutkan membaca sampai tuntas.

Nah, buat kalian yang ingin mengenal dewa-dewi di mitologi Yunani, aku merekomendasikan banget buku ini. Selamat membaca! :D

Feb 27, 2017

Wishful Wednesday - 5th Anniversary Giveaway

2


Okay, sebelumnya aku mau ngaku dulu. Aku seriiiiing banget lihat postingan Wishful Wednesday. Berhubung gak paham mekanismenya, jadi aku gak pernah ikutan. Hehehe. Tapi, karena sudah dijelaskan oleh seorang teman yang baik hati, akhirnya kuputuskan untuk ikut Wishful Wednesday [220] yang bertepatan dengan anniversary WW yang ke-5! Wih, keren nih udah lima tahun aja. Salut buat Mbak Astrid yang setia sebagai host WW!

Nah, untuk merayakan anniversary WW, Mbak Astrid mau bagi-bagi voucher buku senilai 100k atau USD 11. Untuk mudahnya, langsung cek postingan Mbak Astrid ini ya.

Untuk WW kali ini, yang aku inginkan bukanlah buku hehe, tapi manga favoritku yang belum keturutan baca sampai sekarang. Bisa dibilang aku fans berat manga yang satu ini. Dulu sih sering baca di rental. Tapi, berhubung rentalnya sudah bangkrut, aksesku baca komik pun jadi lumpuh seketika. Hiks! Fyi, manga ini benar-benar bagus. Aku selalu mendapat 'sesuatu' tiap menamatkan manga yang satu ini. Gak percaya? Aku pernah sedikit mengulasnya di sini.

Yak, biar gak penasaran, ini dia kovernya!!

Bisa dibeli di GRAMEDIA.COM
Bisa dibeli di GRAMEDIA.COM
Bisa dibeli di GRAMEDIA.COM

Selain tiga manga incaranku di atas, ada dua manga lagi yang sepertinya bagus setelah aku baca review-nya di suatu blog. Ini dia kovernya:

Bisa dibeli di GRAMEDIA.COM
Bisa dibeli di GRAMEDIA.COM

Okay, sepertinya itu aja WW pertamaku. Semoga keberuntungan sedang berpihak padaku, jadi Mbak Astrid mau mengabulkan WW pertamaku ini. Aamiiinn! Oya, buat kalian yang pengin buku incarannya dikabulkan, bisa ikutan juga lho. Good luck! 

Feb 25, 2017

A Monster Calls

0


REVIEW A MONSTER CALLS (PANGGILAN SANG MONSTER)

Judul: Panggilan Sang Monster (A Monster Calls)
Penulis: Patrick Ness
Ilustrasi: Jim Kay
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2016
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-2081-6

Blurb:

Sang Monster Muncul Persis Lewat Tengah Malam.
Seperti Monster-Monster Lain.

Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama selimut kegelapan, desau angin, dan jeritan… Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor.

Dia Menginginkan Kebenaran.

Review:

Monster itu datang menemui Conor O’Malley tiap pukul 00.07 malam. Perawakannya yang besar dan kasar menyerupai pohon yew—begitu menakutkan, kelam, dan liar. Siapa pun yang melihatnya pasti terkencing-kencing karena ketakutan.

Sayangnya, itu tak berlaku bagi Conor. Alih-alih ketakutan, bocah itu malah merasa kecewa, karena bukan monster itu yang dinantinya. Ada monster lain yang lebih seram dan menakutkan. Monster itu kerap muncul menghantui malam-malam Conor lewat mimpi buruk. Ya, monster itulah yang sebenarnya dinanti Conor, bukan monster dari pohon yew yang mendatanginya tersebut.

Meski demikian, Conor menanti kedatangan monster itu. Sudah banyak masalah yang dialami Conor, mulai perundungan yang dialaminya di sekolah, kerinduannya pada sang ayah, sampai pengobatan ibunya yang tak kunjung menyehatkan fisik sang ibu. Kedatangan monster itu tak buruk-buruk amat dibanding apa yang dialaminya. Lagipula, Conor juga penasaran apa maksud sang monster itu menemuinya.

Bukannya mendapat jawaban, sang monster malah berkata Conor lah alasannya datang. Conor makin tak mengerti. Ia merasa tak memanggil sang monster. Sang monster pun berkata bijak bahwa ia akan menceritakan tiga kisah pada Conor. Tugas Conor adalah melanjutkan kisah keempat. Melalui kisah keempat itulah, maka kebenaran yang disembunyikan Conor akan terungkap. Kebenaran yang sejatinya diinginkan sang monster darinya.

***

Sedari dulu, aku berpikir mimpi bukan hanya sekadar bunga tidur semata. Aku pernah membaca ada mimpi-mimpi yang berasal dari alam bawah dasar manusia. Mimpi itu bisa berupa perlambang yang menunjukkan keinginan, ketakutan, bahkan trauma masa lalu. Jujur saja, aku pernah mengalami mimpi semacam itu. Ketika terbangun, mimpi itu benar-benar menghantui dan membuatku ketakutan. Ya, mimpi semacam itulah yang dialami Conor O'Malley, tokoh utama novel A Monster Calls. Mimpi itu melibatkan ibunya yang sedang sakit kanker. Melihat mimpi Conor tersebut, langsung saja membuatku simpati pada bocah berusia 13 tahun itu. Aku pernah mengalami hal yang serupa, jadi aku paham sekali apa yang dirasakan Conor, dan betapa takutnya ia akan sosok monster dalam mimpinya tersebut.

Kover dan ilustrasi novel ini didominasi warna-warna kelam, sesuai dengan ide ceritanya yang berkisar seputar cinta, kehilangan, dan harapan. Awalnya, aku berpikir akan menemui kisah horor nan mistis ketika membaca novel ini. Namun, rupanya tak seperti itu. Aku terjebak dengan penggambaran kisah monster yang biasa diceritakan di buku lain. Monster di novel ini jauh dari kesan itu. Ia tak menghantui Conor, namun malah membuka pikiran Conor lewat kisah-kisah yang diceritakannya pada Conor.

Bagian yang kusuka dari novel ini adalah tiga kisah yang diceritakan sang monster. Ketiga kisah tersebut memiliki penjabarannya masing-masing. Yang membuatku terkesan, dari kisah-kisah tersebut, muncul dua kesimpulan yang didapat, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Ketika membacanya, aku jadi paham bahwa tak ada hal yang benar-benar baik, atau benar-benar jahat. Sesuatu yang baik bisa saja kelihatan jahat, juga sebaliknya, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Karena manusia adalah makhluk yang rumit, kata monster itu. Bagaimana lagi sang ratu bisa menjadi penyihir baik sekaligus jahat? Bagaimana lagi sang pangeran menjadi pembunuh sekaligus penyelamat? Bagaimana lagi si apoteker memiliki perangai buruk tapi pemikiran yang lurus? Bagaimana lagi seorang pendeta berpikir keliru tapi berbaik hati? Bagaimana lagi pria tak kasatmata membuat diri mereka semakin kesepian dengan menjadi terlihat? (hal. 201)

Puncak dari novel ini adalah lewat kisah keempat, ketika Conor diharuskan menceritakan kisah dalam mimpi buruknya. Bagian ini begitu sarat emosi. Aku bisa memahami kesedihan Conor dan penyangkalan atas apa yang dilakukannya. Sang monster sendiri tak peduli hal itu. Ia terus mendesak agar Conor mengakui perbuatannya. Yang tak diketahui Conor, ada kebenaran sejati yang tersembunyi di baliknya.

Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakukan. (hal. 202)

Saat menamatkan novel ini, aku harus menahan napas karena terlalu larut dengan emosi Conor. Di blurb-nya sendiri memang diceritakan kalau kisahnya tergolong sedih. Tapi, membayangkan anak seusia Conor mesti mengalami hal-hal yang begitu menyakitkan, rasanya aku jadi sedikit tidak tega. Untunglah, semua itu terbayarkan dengan pesan yang ingin disampaikan penulis. Buatku pribadi, novel ini membuka pikiranku akan hal-hal di sekitarku, agar jangan merasa benar sendiri saat mencermati suatu peristiwa yang terjadi. Aku juga belajar untuk jujur pada diri sendiri, meski hal itu berat, menakutkan, bahkan tergolong jahat sekali pun.

Membaca A Monster Calls memang memberi kesan tesendiri. Karena itulah, aku menyematkan empat bintang pada novel ini. Untuk kisah yang kelam namun menyentuh ini, aku tak ragu merekomendasikannya pada siapa pun, karena memang ceritanya bagus, beda, dan sarat makna.

So... selamat berburu novel ini. Dan... selamat membaca!! ;)

Jan 31, 2017

Dark Memory

3


REVIEW DARK MEMORY

Judul: Dark Memory
Penulis: Jack Lance
Pengalih Bahasa: Tika Sofyan
Penyunting: Deesis Edith Mesiani
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, Desember 2016
Tebal: 338 halaman
ISBN: 978-602-394-368-5

Blurb:

Monster itu merentangkan sayapnya. Mengangkat tubuhnya dan terbang. Ia menjadi mangsa makhluk itu; ia diambil oleh kekuatan gelap. Semakin tinggi, semakin tinggi lagi ia berada di langit gelap. Ia mengira monster itu akan membawanya keluar dunia dan masuk ke dalam tempat persembunyiannya, ke dalam sarangnya, di mana tulang-tulangnya akan membusuk di antara sisa-sisa mangsa lainnya.

Rachel Saunders menghadiri pemakaman Jenny Dougal, sahabat baiknya yang meninggal karena kecelakaan tragis. Namun tak lama setelah pemakaman, ia sendiri menghilang secara misterius. Hal ini membuat khawatir Jonathan Lauder, kekasih Rachel, yang langsung terbang ke Skotlandia untuk mencari kekasihnya.

Tiga hari kemudian, Rachel muncul kembali secara misterius. Tetapi, ia mengalami amnesia jangka pendek dan tidak bisa mengingat apa pun selama tiga hari sebelumnya, hingga minggu-minggu terakhir sebelum dirinya menghilang. Namun satu hal yang ia yakini, Jenny belum meninggal. Sahabatnya itu masih hidup. Ia ada di suatu tempat, dan Rachel merasa harus segera menemukan dan menolongnya, sebelum terlambat!

Jonathan dan Rachel berusaha mencari tahu dan merekonstruksi hari-hari saat Rachel menghilang, demi mencari kebenaran mengenai Jenny, dan mencari penyebab Rachel kehilangan ingatannya.

Namun apa yang Rachel temukan adalah teror yang menakutkan. Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup, dan mungkin untuk menyelamatkan Jenny adalah dengan menyingkap tabir gelap masa lalunya...

Review:

Akibat benturan di kepala, Rachel Saunders kehilangan sebagian memorinya. Ia tak ingat namanya, bahkan apa yang dilakukannya di dalam hutan. Yang ia tahu, insting mendesaknya agar selekasnya pergi meninggalkan hutan. Dengan langkah linglung, ia pun berjalan dan menemukan jalan raya beraspal. Karena tak hati-hati, nyaris saja ia tertabrak mobil di tikungan. Untunglah, pengendara mobil tersebut—Stephen Mackenzie—sigap mengerem, sehingga nyawa Rachel dapat terselamatkan.

Melihat kondisi Rachel yang tak karuan, Stephen berbaik hati membawa Rachel ke rumahnya. Bersama sang istri Ellen Mackenzie, mereka pun merawat Rachel yang berusaha mengingat apapun mengenai dirinya. Akhirnya, potongan-potongan ingatan mulai menghampiri Rachel. Walau demikian, masih ada yang mengganjal di kepalanya. Seakan ada kekuatan tak kasat mata yang menghalangi Rachel untuk mengingatnya.

Sementara itu, Jonathan Lauder terbang ke Skotlandia untuk mencari Rachel yang tak kunjung kembali ke Inggris. Saat bertemu, Rachel segera bertanya untuk apa ia ke Skotlandia. Jonathan pun bercerita alasan Rachel ke Skotlandia adalah untuk menghadiri pemakaman sahabatnya Jenny Dougal. Rachel terkejut mendengarnya. Ia sama sekali tak ingat pergi ke pemakaman Jenny. Ia malah meyakini sahabatnya itu masih hidup dan berada di suatu tempat yang tak diingatnya, menanti untuk diselamatkan.

Rachel tak bisa tinggal diam begitu saja tiap memikirkan kondisi Jenny. Ia pun membulatkan tekad untuk menyelamatkan sahabat yang begitu dikasihinya itu. Kunci permasalahannya ada pada ingatan Rachel yang simpang siur. Karena itulah, Rachel dan Jonathan memulai penyelidikan dengan mendatangi orang-orang yang terakhir kali ditemui Rachel. Bukan cuma itu saja. Mereka pun mengorek informasi mengenai Jenny. Mulai dari apa yang dilakukannya, sampai bertemu Lester Cumming—mantan kekasih Jenny—yang begitu dibenci Rachel karena sering melakukan kekerasan fisik pada Jenny.

Belum juga mendapat titik temu mengenai Jenny, mendadak saja Rachel diculik dari hotel tempatnya menginap. Jonathan langsung kalang kabut dan berusaha mencari kekasihnya tersebut. Sementara itu, Rachel yang ditawan oleh sang penculik mulai dibayang-bayangi sosok sang monster. Rachel kemudian sadar apa yang dilakukannya bukan hanya menguak misteri mengenai Jenny, namun juga menguak masa lalunya yang kelam. Masa lalu yang berusaha disembunyikannya mati-matian. Masa lalu di mana sang monster pernah merongrong hidup Rachel, sehingga membuatnya mengalami trauma yang berkepanjangan.

***

Buatku pribadi, amnesia adalah produk klise yang digunakan penulis untuk menggerakkan sebuah cerita. Karena itulah, aku jarang menaruh perhatian ketika tokoh novel yang kubaca mengalami amnesia. Di tangan penulis yang tak sanggup mengeksekusinya dengan baik, maka amnesia cuma sekadar tempelan belaka, hanya sebagai pemanis yang dijadikan konflik internal tokoh utama. Namun, di tangan penulis yang andal, amnesia akan dijadikan tonggak cerita yang kuat dan menarik secara keseluruhan. 

Itulah yang kurasakan saat membaca novel Dark Memory karya Jack Lance ini. Amnesia jangka pendek yang dialami Rachel benar-benar memiliki landasan kuat sebagai penggerak cerita. Jack Lance tak asal-asalan menjadikan Rachel hilang ingatan. Ada alasan, latar belakang yang kuat, serta penyelesaian untuk hal tersebut. Alhasil, aku tak lagi menganggap amnesia sebagai sesuatu yang klise. Malah aku menikmati kebingungan Rachel di sela-sela usahanya mengais ingatannya yang hilang.

Sejak bab awal, Dark Memory menawarkan nuansa mencekam lewat pemilihan diksinya yang lugas. Narasinya pun tak bertele-tele, membuat pembaca mudah menyelami emosi para tokoh yang diceritakan lewat sudut pandang orang ketiga. Dengan alur maju dan sesekali flashback, Jack Lance mampu merajut plot ceritanya dengan rapi. Beberapa kejutan di akhir bab pun menambah keseruan novel ini, membuat pembaca penasaran dan ingin terus melanjutkan membaca bab-bab selanjutnya.

Novel ini memang minim clue, tapi tak mengurangi keasyikan ketika membacanya. Konfliknya sendiri dieksekusi dengan baik dan tak membuat pembaca mengerutkan kening akibat penjelasannya yang masuk akal. Misalnya saja seperti misteri kematian Jenny yang berhubungan dengan mantan kekasihnya, juga alasan kenapa Rachel menganggap Jenny masih hidup padahal ia telah dimakamkan. Yang makin membuat Dark Memory spesial, Jack Lance menyelipkan sentuhan psikologis pada diri Rachel. Ada alasan khusus kenapa Rachel mem-visualisasikan sosok di masa lalunya sebagai monster, yang berhubungan dengan kondisi kejiwaannya. Sebagai pembaca yang suka hal-hal berbau psikologi, menurutku yang dilakukan Jack Lance ini brilian sekali. Hal ini membuat cakupan isi novelnya terasa luas dan berbobot di waktu yang bersamaan.

Melihat interaksi Rachel dan Jenny yang mengindikasikan mereka seorang biseksual, sepertinya novel ini patut diberi label DEWASA di kovernya. Memang tak ada penyebutan langsung mengenai orientasi mereka, tapi tak ada salahnya menambahkan label tersebut. Apalagi ada beberapa adegan dewasa di dalam novel yang apabila dibaca remaja sepertinya masih belum pantas.

Tiap penulis pasti memiliki pesan atau amanat yang ingin disampaikan pada pembaca. Dalam novel Dark Memory, Jack Lance ingin menyampaikan bahwa setiap orang pasti memiliki masa lalu dan traumanya masing-masing. Walau demikian, jangan sampai masa lalu itu membuat kita enggan move on. Lanjutkanlah hidup dan berusaha bahagia, seperti yang dijalani Rachel dan Jonathan.

Hidupnya telah berubah.

Akan tetapi dinding-dinding yang dibangunnya sendiri sudah dirobohkan. Bersama Jonathan, ia ingin membangun hidup baru.

Kehidupan tanpa demon, tanpa Graeme Horne, dan tanpa Lester Cumming.

Rachel melewati pedesaan Skotlandia, menuju kaki langit berwarna ungu.

"Menakjuban sekali, sungguh, kita bisa melanjutkan hidup," ia merenung.

"Ya, memang," kata Jon pelan.

"Hanya kita berdua." Rachel menekankan.

(hal. 338)