Dec 5, 2017

The Rose Society

0


Judul: The Rose Society
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: 480 halaman
ISBN: 978-979-433-993-0

Blurb:

Setelah terusir dari Perkumpulan Belati, Adelina Amouteru membuat tandingannya, yakni Perkumpulan Mawar. Di antara para Elite Muda yang berhasil dia rekrut ada Magiano Sang Pencuri dan Sergio Sang Penenun Hujan. Dengan bantuan para Mawar, Adelina bermaksud membalas dendam pada Teren dan Aksis Inkuisisi, serta merebut takhta Kerajaan Kenettra. Ini bukan hal mudah, karena Perkumpulan Belati bekerja sama dengan Maeve, Ratu Beldain yang juga mengincar takhta Kenettra. 

Ketika pertempuran besar semakin dekat, Adelina tidak hanya harus menghadapi musuh-musuh dari luar, tapi juga dari dalam dirinya sendiri. Terkadang dia tidak dapat mengendalikan kekuatan, dan ilusi-ilusi yang dia ciptakan berbalik menyerangnya. Bisakah Adelina menuntaskan aksi balas dendamnya sebelum kegelapan menghancurkan dirinya?

Review: 

Adelina merasa sakit hati setelah dibuang oleh Raffaele dari Perkumpulan Belati. Dulu mereka memang teman. Tapi setelah kematian Enzo, dia didepak begitu saja. Adelina marah. Sekarang, Perkumpulan Belati tak lebih dari pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Mereka adalah musuh, sama seperti Teren yang telah merenggut nyawa Enzo. Adelina pun berniat balas dendam. Dia ingin menunjukkan kalau tak ada seorang pun yang bisa meremehkan dirinya.

Misi balas dendam Adelina dimulai dengan mencari para Elite baru. Dia bertemu Magiano yang bisa meniru kekuatan para Elite lain. Setelah Adelina berhasil membunuh Kaisar Malam, Magiano mulai menaruh minat dan bersedia menjadi rekannya. Adelina juga bertemu Sergio yang mampu mengendalikan hujan. Rupanya selama ini, Sergio menjadi pembunuh bayaran Kaisar Malam. Melihat kekuatan Adelina, Sergio memutuskan untuk menjadi rekan sekutu Adelina.

Bersama Violetta, Magiano, dan Sergio, Adelina resmi membentuk Persekutuan Mawar. Targetnya tak hanya balas dendam, tapi juga merebut takhta Kanettra. Tentu bukan jalan yang mudah. Ada Maeve, Ratu Beldain, sang penyokong Persekutuan Belati yang juga ingin menduduki takhta.

Tipu muslihat mulai dilancarkan Adelina. Dia menghasut Teren dan menenun ilusi demi membalaskan dendamnya. Kekuatan mencipta ilusi Adelina memang semakin kuat, tapi halusinasi yang dialaminya juga makin parah. Para Elite memang memiliki kekuatan dewa. Namun, Adelina tak tahu kekuatan itu pula lah yang kelak akan menghancurkan dirinya.

***

Setelah diusir dari Perkumpulan Belati, Adelina menjadi pribadi yang tak kenal ampun. Bisa dibilang, sikap toleransinya berada di ambang batas. Kenaifannya tak memberinya hal-hal baik yang dia yakini. Sebaliknya, dia merasa dikhianati. Hal inilah yang mengubah karakter Adelina menjadi bengis dan tak berperasaan.

Mengapa bukan aku yang kali pertama menyerang, menampar lebih dulu dengan segenap kemarahan, sehingga musuh-musuhku bertekuk lutut sebelum mereka sempat berpikir untuk melawanku? Apa sih hebatnya menjadi baik hati? (hal. 129)

Di buku pertama diceritakan Adelina terkait dengan hasrat dan ambisi. Menilik dari masa lalunya yang kerap ditindas, wajar jika ambisi Adelina terhadap takhta Kanettra begitu besar. Hasrat ingin diakui memang begitu membekas pada diri Adelina. Hal ini pula yang membuatnya mampu melakukan apa saja, bahkan membunuh siapa pun yang berusaha menghalangi langkahnya.

Seharusnya kehadiran Magiano memberi dampak positif bagi Adelina. Terlebih Adelina merasa nyaman dengan pemuda itu. Sayangnya, Adelina tak mau berpaling dari cinta lamanya, Enzo. Terutama setelah hidup mereka berdua terikat. Sisi egois Adelina inilah yang membuat Magiano kecewa.

"Ya, aku tahu," geramnya sarkastis. "Hanya itu yang kau pedulikan. Kemenanganmu. Pangeranmu. Tak ada lagi yang lain." (hal. 388)

Setelah semua yang terjadi, Adelina terlihat mendamba kekuatannya sendiri. Baginya, kekuatannya adalah segalanya. Hanya saja, makin lama hal ini berdampak buruk untuknya. Bisikan-bisikan jahat terus merongrong dan mengambil alih. Adelina jadi tak bisa berpikir jernih dan terus dicekoki pikiran negatif.

Kau lihat? ujar bisikan-bisikan itu. Makhluk-makhluk yang merangkak di lantai akhirnya menghampiriku, dan sebelum aku bisa menyingkirkan mereka, mereka melompat ke arahku dan memasuki pikiranku. Pikiran-pikiran mereka menggantikan pikiran-pikiranku sendiri. Aku bergidik. (hal. 468)

Buku kedua Trilogi The Young Elites ini memang lebih kelam dari buku pertama. Marie Lu sendiri mengaku kesulitan, karena harus memposisikan dirinya sebagai tokoh jahat yang pikirannya begitu negatif. Ya, tak seperti buku lain, Adelina bukanlah sosok pahlawan. Dia tak dielu-elukan karena menumpas kejahatan. Alih-alih, dia melawan kejahatan dengan kejahatannya sendiri.

Sangat menarik melihat perkembangan karakter Adelina. Di satu sisi, pembaca diajak berempati dengan apa yang telah dialaminya. Tapi, di sisi lain, pembaca tak tahan dengan kekejaman yang dilakukannya.

Tentu kekejaman Adelina bukan tanpa alasan. Sesungguhnya, tak ada manusia yang terlahir jahat begitu saja. Ada faktor pendukung, ada latar belakang di baliknya. Inilah menariknya buku ini. Adelina memberi kesan bahwa dia layak melakukan hal-hal jahat tersebut sebagai kompensasi atas apa yang telah dia alami. Dan kita sebagai pembaca, memahami dengan jelas bagaimana hal itu bisa terjadi.

Novel ini diakhiri dengan dramatis. Adelina berhasil merebut takhta, tapi tak ada kepuasan yang dia rasakan. Hal ini membuat pembaca bertanya-tanya. Seperti apa langkah Adelina selanjutnya? Apa dia akan berubah atau malah makin terjerumus dengan kegelapan?

Jawabannya tentu ada pada The Midnight Star sebagai penutup seri The Young Elites. Seri ini memang layak dikoleksi. Marie Lu berhasil memaknai kegelapan lewat tokoh Adelina dengan versinya sendiri, yang tak hanya mengundang benci, tapi juga simpati.

Rate: 5/5 bintang

Nov 24, 2017

The Young Elites

0


REVIEW THE YOUNG ELITES

Judul: The Young Elites
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, November 2015
Tebal: 428 halaman
ISBN: 978-979-433-909-1

Blurb:

Semua orang ketakutan. Malfetto adalah jelmaan iblis.

Wabah berdarah yang nyaris memusnahkan nyaris semua penduduk negeri, memunculkan kengerian baru. Segelintir orang yang selamat menjadi malfetto, orang-orang terkutuk. Apalagi orang-orang terkutuk itu memiliki kekuatan supernatural dan dapat membunuh sesuka hati. Kerajaan membentuk pasukan inkuisisi untuk memburu mereka karena dianggap berbahaya dan mengancam pemerintahan.

Kehidupan Adelina Amouteru berubah total ketika dia kehilangan mata kirinya dan rambutnya berubah sewarna perak. Dia malfetto. Sang ayah yang merasa malu, berusaha menjualnya. Adelina menolak dan berusaha kabur. Malangnya, dia tertangkap oleh pasukan inkuisisi dan hendak dijatuhi hukuman mati. Pada hari eksekusi, seorang pemuda misterius bernama Enzo menyelamatkan Adelina. Ternyata Enzo adalah pemimpin Dagger Society, sekelompok Elite Muda yang berencana menggulingkan pemerintahan. Karena tidak punya pilihan lain, Adelina bergabung dengan mereka. Namun ketika tiba waktunya melakukan kudeta, Adelina dihadapkan pada pilihan sulit: mengkhianati Dagger Society atau mengkhianati adik perempuannya sendiri. Apa pun yang dipilihnya, kematian mungkin menunggunya.

Review:

Adelina Amouteru kabur dari rumah begitu tahu dia akan dijual oleh ayahnya. Adelina adalah seorang malfetto. Tak ada yang menginginkan malfetto seperti dirinya. Bahkan ayahnya sendiri malu terhadap dirinya dan lebih menganakemaskan adiknya Violetta

Karena merasa keberadaannya tak diinginkan, Adelina memutuskan untuk pergi saja. Sayangnya, dalam pelariannya, dia tertangkap oleh sang ayah. Saat itulah, kekuatan Adelina sebagai malfetto muncul. Dia membuat hantu-hantu gelap keluar dari tanah. Dengan menyimpan perasaan takut dan marah, Adelina membuat ayahnya menderita, sekarat, dan akhirnya mati secara mengenaskan.

Akibat kematian ayahnya, para pasukan inkuisisi datang untuk memberi Adelina hukuman mati. Saat itulah, dia diselamatkan Enzo, pemimpin Dagger Society (Perkumpulan Belati). Adelina merasa diterima di perkumpulan itu, karena para anggotanya yang dinamai Elite Muda sama-sama malfetto.

Saat pertunjukan di Fortunata Court, Teren Santoro yang merupakan pemimpin inkuisisi mengenali Adelina. Dia pun mengajukan penawaran pada Adelina. Teren ingin mendapatkan informasi tentang Perkumpulan Belati. Kalau tidak mau bekerja sama, Teren akan membunuh Violetta yang saat itu tengah ditawannya.

Adelina merasa dilema. Di satu sisi, dia tak ingin mengkhianati Perkumpulan Belati. Namun, di sisi lain, dia tak bisa membiarkan Violetta dibunuh. Awalnya, Adelina berniat untuk memberi tahu Enzo tentang kesepakatannya dengan Teren. Namun, ketika tak sengaja mendengar pembicaraan Enzo dan Dante, Adelina sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Adelina pun membelot dan pergi mendatangi Teren untuk mengungkap rahasia yang dia ketahui.

Setelahnya, keadaan makin tak menguntungkan bagi Adelina. Dia jadi tahu fakta mengenai Violetta. Adelina pun harus mendapati kenyataan dirinya telah membunuh laki-laki yang dia kasihi. Hal ini mengakibatkan dunia Adelina makin menggelap dan tak terselamatkan.

***

Sisi gelap dalam diri manusia menjadi tema dalam novel karya Marie Lu ini. Sosok Adelina menginterpretasikan bagaimana ketidakberdayaan, kesedihan, rasa iri, bahkan kemarahan menjadi sumber kekuatan. Ya, Adelina telah mengalami masa-masa pahit. Akibat dianaktirikan ayah sendiri, membuat Adelina kehilangan harapan ada yang mau menerima kondisinya sebagai malfetto.

Tak seorang pun menginginkanmu menjadi dirimu sendiri. Mereka ingin kau menjadi versi orang yang mereka sukai. (hal. 118)

Sesungguhnya, Adelina adalah gadis yang baik hati dan agak rapuh. Dia hanya mendambakan ketulusan. Dia juga ingin diterima dan diperlakukan secara pantas. Karena itulah, melihat bagaimana baiknya Raffaele padanya, dia merasa tersanjung. Enzo pun menaruh perhatian padanya, membuat Adelina merasa disayangisesuatu yang tak pernah didapatkannya selama ini.

Harapanmulah yang membunuhmu. Seperti itulah kira-kira perumpamaan yang tepat untuk apa yang dialami Adelina. Adelina menaruh harapan yang cukup besar pada Perkumpulan Belati. Dia bersungguh-sungguh ingin menjadi bagian dari perkumpulan itu. Namun, kenyataan tak seindah angan-angan. Tak ada ketulusan yang Adelina terima. Sejak awal, dia hanya dijadikan alat oleh orang-orang yang dia percayai.

Mereka semua ingin memanfaatkanmu, memanfaatkanmu, memanfaatkanmu, sampai mereka mendapatkan apa yang mereka ingini. Lalu, mereka akan menyingkirkanmu. (hal. 400)

Violetta memiliki andil yang cukup besar dalam membentuk kepribadian Adelina. Violetta memang tak pernah meninggalkan Adelina atau bersikap buruk padanya. Namun, rupanya ada rahasia yang disembunyikan Violetta di balik sikap manisnya. Sesungguhnya, Violetta tak senaif yang disangka Adelina. Sikap Violetta yang manipulatif inilah yang dibenci Adelina dan tak bisa dia maafkan.

Maaf, selalu maaf. Apa yang bisa kau beli dengan kata maaf? (hal. 343)

Walau membenci sikap Violetta, saat Adelina terpuruk karena kehilangan orang yang dia kasihi, Violetta selalu ada di sampingnya. Hal ini menyadarkan Adelina bahwa selama ini Violetta cuma berusaha melindunginya. Violetta pula lah yang memberinya kebaikan tanpa pamrih, tak seperti yang dia kira akan didapatkannya dari anggota Perkumpulan Belati.

Di seluruh dunia ini, hanya dialah yang melakukan segalanya untukku, baik atau buruk, tanpa mengharapkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Kami saudara. Terlepas dari semua yang telah terjadi, terlepas dari semua yang kami pendam terhadap satu sama lain, kami tetaplah saudara sampai mati. (hal. 407)

Kesan dark dalam novel ini memang kental sekali. Terutama pada deskripsi saat Adelina menciptakan ilusi, melalui benang-benang energi dan gambaran kegelapan di benaknya. Bagi orang-orang yang pernah mengalami perasaan serupa seperti Adelinamerasa tak diinginkan dan diperlakukan tak adiltentu memberi efek tersendiri yang dramatis, karena bagaimana pun perasaan seperti itu selalu memberi dampak yang buruk bagi siapa pun yang mengalaminya.

Novel ini layak dibaca dan dikoleksi bagi siapa pun yang menyukai aura kelam pada tokohnya. Memang cukup membuat depresi, tapi juga memberi pengharapan. Lewat tokoh Adelina, kita diajak untuk melihat bagaimana hal-hal tersebut memberinya kekuatan mencipta ilusi yang dahsyat dan luar biasa menakjubkan.

Rate: 4/5 bintang

Nov 18, 2017

My Empress

0


REVIEW MY EMPRESS

Judul: My Empress
Penulis: Syakia Lingga
Penerbit: Fantasious
Cetakan: I, Juni 2017
Tebal: 584 halaman
ISBN: 978-602-692-290-8

Blurb:

Terkadang, cinta sejati sulit untuk menerima kenyataan perpisahan. Rasa hampa yang ditinggalkan selalu berpusar di dasar hati dan tak mau pergi. Itulah yang dialami oleh Kaisar Tan dari Kerajaan Hanzhi yang kehilangan calon permaisurinya dengan cara yang sangat tragis. Ia merasakan ada yang tidak biasa dari peristiwa nahas itu. Cinta dan duka berpadu menjadi satu, membuatnya menolak melupakan bahkan menggeser posisi Ailan, sang gadis idamannya itu.

Tanpa ia tahu, Ailan dan salah seorang pelayan setia keluarganya berhasil selamat dari pembantaian yang didalangi orang dalam istana. Demi terus hidup, Ailan terpaksa menyamarkan identitas dan menampilkan diri sebagai seorang pemuda desa bernama Lan. Dalam penyamarannya, ia tekun berlatih pedang dan bela diri dari seorang guru misterius. Keinginan mencari tahu apa yang sebenarnya menimpa keluarganya tak pernah padam. Ia tahu harus selalu mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Sampai ketika rombongan Kaisar Tan berkunjung ke desa tempatnya tinggal, kesempatan untuk menyelidiki penyerangan keluarganya sembilan tahun silam datang tanpa diduga. Kaisar Tan yang terpesona dengan kepiawaian Lan dalam bela diri, mencari cara untuk bisa membawanya ke istana dan mengangkat pemuda itu sebagai pengawal pribadi, tanpa menyadari bahwa dorongan itu sebenarnya berasal dari kerinduan pada sosok Ailan yang tak pernah sirna.

Di tengah perasaan aneh dan terlarang yang makin muncul di antara keduanya, situasi istana dan Negeri Hanzhiling semakin memanas. Pihak-pihak yang ingin merebut kuasa semakin berani melancarkan serangan diam-diam. Di pundak keduanyalah masa depan cinta mereka dan Kerajaan Hanzhiling berada.

Review:

Kaisar Tan tak bisa melupakan Ailan, gadis yang dia cintai sekaligus calon permaisurinya yang diduga tewas karena dibunuh di hutan. Ketika melihat Lan, Kaisar Tan seperti melihat sosok Ailan dalam diri pemuda itu. Kaisar Tan gundah. Terlebih ketika dia mulai tertarik dengan Lan dan berusaha membuat pemuda itu selalu ada di dekatnya. Sesungguhnya, Kaisar Tan sadar perasaannya tak pada tempatnya, karena dia pun sama-sama laki-laki. Sayangnya, dia tak bisa berhenti menginginkan keberadaan Lan untuk selalu ada di sampingnya.

Sementara itu, akibat tragedi di masa lalu, Ailan terpaksa mengubah namanya menjadi Lan. Dia mesti menyamar menjadi laki-laki dan meninggalkan identitasnya sebagai perempuan. Ketika Kaisar Tan menunjuknya sebagai pengawal pribadi, Lan tahu ini kesempatan yang bagus untuk menyelidiki dalang di balik pembunuhan ayah dan ibunya.

Meski dipenuhi kesalahpahaman, semesta seolah menghendaki Kaisar Tan dan Ailan untuk kembali bersama. Namun, itu rupanya bukan hal yang mudah. Konflik internal kerajaan yang melibatkan pernikahan Kaisar Tan, perebutan tahta, kudeta, bahkan pengkhianatan tak bisa lepas dari keduanya.

***

Novel ini mengambil latar di Kekaisaran Hanzhiling yang dipusatkan pada Kerajaan Hanzhi. Meski setting tempatnya tak ada di dunia nyata, namun penulis memberi keterangan tersendiri di halaman belakang novel untuk menjelaskan seperti apa Kekaisaran Hanzhiling, sistem pemerintahan di Kerajaan Hanzhi, dan tradisi yang ada di sana. Sebelum membaca novel ini, ada baiknya membacanya terlebih dahulu untuk mempermudah memahami seperti apa kondisi yang ingin disampaikan penulis.

Formula cerita di mana seorang perempuan terpaksa mengganti identitasnya menjadi laki-laki tentu lumrah dilihat pada drama-drama Korea. Novel ini pun mengambil tema serupa, di mana Ailan harus menyamar sebagai laki-laki dengan nama Lan setelah insiden yang menewaskan kedua orang tuanya. Pertemuannya dengan Kaisar Tan membawanya kembali ke istana sebagai pengawal pribadi. Setelah peristiwa Kaisar Tan yang nyaris diracun, Lan mulai diserahi tugas untuk mencari dalang di balik pembubuh racun tersebut. Hal inilah yang mengawali serentetan peristiwa yang kemudian merujuk pada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Kaisar Tan, dan tradisi Yishi Xuan (tradisi pemilihan calon pendamping kaisar), yang berbuntut pada peristiwa terbunuhnya orang tua Ailan.

Novel ini memiliki cukup banyak konflik internal dalam kerajaan yang menarik untuk diikuti. Misalnya saja mengenai rencana pernikahan Kaisar Tan. Untuk meneruskan tahta, Kaisar Tan harus mempunyai keturunan. Dia pun dipaksa menikahi Bhea Jenna, salah satu kandidat Yishi Yuan. Kaisar Tan tak menyukai keputusan sepihak Ibu Suri Loumi tersebut. Dia pun mulai melancarkan serangan tidak sukanya dengan pura-pura menjalin cinta dengan Lan, sehingga menimbulkan kasak-kusuk di istana kalau Kaisar Tan adalah penyuka sesama jenis. Dengan kondisi Lan yang tengah menyamar sebagai laki-laki, tentu terlihat lucu sekali. Terlebih melihat bagaimana frustasinya Kaisar Tan yang menganggap dirinya tak normal, karena benar-benar menyukai Lan.

Selain masalah rencana pernikahan Kaisar Tan dan Bhea Jenna, ada pula Pangeran Yuan yang diam-diam menaruh perhatian pada Lan. Pangeran Yuan sosok yang misterius. Tindak-tanduknya pun tak terbaca. Di satu sisi dia berada di pihak pemberontak, tapi di sisi lain dia memihak Kaisar Tan. Walau perannya sedikit kabur di awal, tapi pada akhirnya dia mendapat apa yang diidam-idamkannya selama ini, yaitu untuk menjelajah dunia di luar istana, sesuai titah Kaisar Tan.

“Puaskan dirimu melihat dunia di luar sana,” ujarnya, lantas mengencangkan jemarinya pada bahu sang pangeran. “Namun kau harus ingat jika tempatmu adalah di istana ini. Selamat jalan Shion, kembalilah tanpa kurang suatu apa pun. Kami akan menunggumu.” (hal. 480)

Melihat banyaknya konflik yang disajikan, novel ini tergolong memiliki ritme cerita yang cukup lambat. Walau demikian, tak ada satu pun adegan yang terbuang percuma dalam novel ini. Begitu pula dengan para tokoh yang dimunculkan, mulai dari tokoh utama, tokoh pendukung, bahkan sampai figuran. Semuanya diatur sedemikian rupa dan diramu secara apik, demi menunjang keutuhan plot yang telah dirancang oleh penulis.

Selain dari segi plot yang apik, ada bagian dalam novel ini yang bermakna filosofis. Di novel ini diceritakan ada seorang cendekiawan bernama Kung Thosi yang hidup pada masa kakek buyut Kaisar Tan. Pemikiran Kung Thosi yang dituangkan dalam biografinya inilah yang dikagumi Kaisar Tan:

Karena itu, Li Huang, bagiku bumi dan langit adalah kesetaraan. Karena kita tidak akan pernah melupakan keagungan langit yang memberikan berkah, namun juga tidak dapat hidup jika bukan di atas bumi yang mereka sebut hina. (hal. 144)

Puncak kehidupan yang sempurna itu bukanlah ketika kau menggenggam kekuasaan di tanganmu, bukan juga saat kau membuat orang-orang tunduk pada titahmu. Kesempurnaan itu, adalah ketika kau mengerti makna hidup. Merasakan sederhana dalam kekayaan, mengerti sedih yang akan menjelaskanmu artinya bahagia, dan terluka yang akhirnya akan tersembuhkan oleh cinta. (hal. 502)

Puncak kehidupan untukmu, adalah ketika kau mendapatkan kasih sayang dari orang-orang berjiwa setia, serta mampu membalasnya dengan cinta yang sama besar. Seperti cinta pada orang tua kepada putra-putrinya, atau seperti cinta sepasang kasih, juga cinta seorang kaisar yang mulia kepada para rakyatnya. (hal. 502)

Melihat kelebihan novel ini, dapat disimpulkan bahwa tak semua cerita yang berasal dari Wattpad itu buruk dan hanya mengandalkan jumlah viewer. Dari segi gaya tulisan, plot yang disajikan, penyelesaian konflik yang tak terburu-buru, bahkan sisi komedi di beberapa tempat, memberikan pengalaman yang menyenangkan saat membaca novel ini. Penulis juga memberi satu pesan sederhana yang tersirat, yaitu mengenai takdir antara dua insan. Lewat perjalanan cinta Kaisar Tan dan Ailan, dapat dilihat ketika dua orang memang ditakdirkan untuk bersama, maka pada akhirnya mereka pasti akan bersatu.

Pada akhirnya, kau akan kembali pada takdir yang telah memanggil.

Rate: 4/5 bintang

Nov 9, 2017

The Girl You Left Behind

0


REVIEW THE GIRL YOU LEFT BEHIND

Judul: The Girl You Left Behind (Gadis yang Kautinggalkan)
Penulis: Jojo Moyes
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2015
Tebal: 672 halaman
ISBN: 978-602-031-549-2

Blurb:

Prancis, 1916. Edouard LefĂ©vre, pelukis, meninggalkan istrinya yang masih muda, Sophie, untuk ikut berperang di garis depan. Ketika kota tempat tinggal mereka jatuh ke tangan Jerman, lukisan Edouard yang menggambarkan sosok Sophie menarik perhatian Kommandant Jerman yang baru. Makin lama sang Kommandant semakin terobsesi oleh lukisan itu, dan Sophie pun rela mempertaruhkan segalanya––keluarga, reputasi, dan hidupnya––demi bisa bertemu suaminya lagi.

Hampir seabad kemudian, Liv Halston mendapatkan lukisan Sophie dari suaminya, David, sebelum David meninggal. Ketika nilai lukisan itu terkuak, timbul konflik tentang siapa sesungguhnya pemilik sahnya––dan Liv harus menghadapi ujian berat demi mempertahankan lukisan itu.

Review:

Edouard Lefevre adalah seorang pelukis yang tinggal di Perancis pada era tahun 1900-an. Dia melukis "Gadis yang Kautinggalkan" untuk istrinya Sophie. Lukisan ini menemui polemik atas kepemilikan di masa sekarang, mengingat penjajahan Jerman atas Perancis pada era Perang Dunia I. Pada masa itu, pihak Jerman banyak menjarah barang milik warga, termasuk karya seni. Undang-undang pun diatur untuk mengembalikan karya seni yang pernah dicuri di masa lalu pada keturunannya yang sah di masa sekarang.

Olivia Halston adalah pemilik "Gadis yang Kautinggalkan" di masa sekarang. Lukisan tersebut dihadiahkan suaminya David sebagai kado perkawinan. Liv tak bisa melupakan suaminya yang telah meninggal bertahun-tahun silam. Itulah yang menyebabkan Liv merasakan ikatan yang kuat pada lukisan pemberian David. Saat ada keturunan Lefevre yang mengaku berhak memiliki "Gadis yang Kautinggalkan", Liv pun tak tinggal diam. Dia berusaha keras mempertahankan lukisan tersebut, meski harus berjuang di pengadilan dan melawan Paul McCafferty, pria yang dikasihinya.

Liv dan Paul bisa saja memulai hidup baru mereka sebagai pasangan yang romantis. Namun, kasus lukisan "Gadis yang Kautinggalkan" menyulut permusuhan, karena mereka berada di pihak yang berseberangan. Paul harus memastikan kliennya mendapat kembali lukisan tersebut. Sementara Liv tak mau dibujuk untuk melepas kasus itu.

Pada akhirnya, masing-masing pihak berusaha menguak sejarah mengenai lukisan "Gadis yang Kautinggalkan". Saat Liv tahu harus melepas lukisan kesayangannya, kebenaran yang sesungguhnya pun terkuak. Bahwa kasus ini diawali dengan premis yang salah, karena sesungguhnya tak ada pencurian apa pun atas lukisan "Gadis yang Kautinggalkan".

***

Mengambil latar waktu tahun 1916 dan 2016, novel ini begitu sarat emosi. Pada bab-bab yang mengambil latar tahun 1916, pembaca diajak melihat kenyataan penjajahan Jerman pada era Perang Dunia I, tepatnya di St. Peronne. Tentara Jerman dikisahkan begitu kejam dan tak berperasaan. Para warga pun dipaksa melayani tentara Jerman. Kalau menolak, maka akan ada ancaman yang diberikan:

"Tetapi kemudian Kommandant Brecker mengumumkan bahwa pemilik toko yang tidak membuka tokonya pada jam-jam kerja biasa, akan ditembak." (hal. 31)

Meski demikian, ada sisi lain dari masa pendudukan Jerman. Seorang Komandan Jerman bernama Friedrich Hencken yang bertugas di St. Peronne tampak manusiawi dan memperlakukan Sophie beserta keluarganya dengan baik. Lambat laun, Sophie bisa merasakan kebaikan Sang Komandan. Hanya saja para warga St. Peronne yang skeptis malah membuat Sophie dilabeli pengkhianat. Saat dia dibawa paksa tentara Jerman, Sophie hanya berharap dia bisa dipertemukan dengan suaminya Edouard. Dia mencoba bertahan sembari percaya penuh dengan kebaikan Sang Komandan.

Cinta sejati akan menemukan jalannya untuk bersatu. Seperti itulah yang terlihat dari kisah Sophie dan Edouard. Klimaks cerita ini adalah saat pertemuan Sophie dan Edouard. Adegan ini begitu mengaduk emosi, karena awalnya Sophie nyaris kehilangan harapan dan bersiap untuk mati:

"Tetapi, oh, Tuhan, wajahnya. Wajah dia. Edouard-ku. Aku tidak kuat lagi menanggungnya. Wajahku tertengadah ke atas, tasku lepas dari genggaman, dan aku pun tersungkur ke tanah. Dan sewaktu aku jatuh, kurasakan kedua tangannya memeluk dan merangkulku." (hal. 641-642)

Persidangan demi persidangan yang dilalui Liv pun memberi gejolak, karena memperlihatkan betapa rumit kasus atas hak kepemilikan lukisan "Gadis yang Kautinggalkan". Paul akhirnya mengambil keputusan yang berani. Dia memutuskan untuk berhenti menangani kliennya dan membantu Liv. Dia melakukannya semata-mata karena mencintai Liv. Paul sadar ada yang lebih penting dibanding memenangkan sebuah kasus di pengadilan, yaitu cintanya pada Liv.

Membaca novel ini begitu memberi kesan yang tak sanggup dilupakan. Penggambaran situasinya terasa amat nyata. Diksinya pun sangat menyentuh. Mau tak mau pembaca diajak merasakan ketegaran Sophie, betapa putus asanya dia, dan kelegaannya karena bisa bersatu kembali dengan yang terkasih.

Novel ini pun membuat pembaca percaya kalau harapan itu masih ada selama kita meyakininya. Lewat perjalanan cinta Sophie dan Edouard, kita dibuat percaya bahwa kebahagiaan sejati itu nyata, seperti yang dirasakan Edouard pada Sophie:

"Aku tak pernah tahu kebahagiaan sejati sampai aku mengenalmu." (hal. 461)

Untuk novel yang begitu mengharubiru ini, tak cukup rasanya menyematkan hanya 5/5 bintang. Kalau bisa, ingin memberi rating lebih dari itu. Yang jelas, novel ini amat sangat menarik dan layak direkomendasikan kepada siapa saja penyuka kisah romance dan yang ingin tahu sekelumit kisah pada era Perang Dunia I.

Alcatraz Vs. The Evil Librarians

0


REVIEW ALCATRAZ VS. THE EVIL LIBRARIANS

Judul: Alcatraz vs The Evil Librarians
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2017
Tebal: 288 halaman
ISBN: 978-602-610-997-2

Blurb:

Seumur hidupnya, Alcatraz Smedry telah tinggal bersama puluhan orangtua angkat. Tak ada yang sanggup menghadapi Bakat Alcatraz yang luar biasa dalam merusak barang. Di ulang tahunnya yang ketiga belas, Alcatraz mendapat sekantong pasir, warisan dari orangtua kandungnya. Sebelum Alcatraz sempat mencari tahu lebih banyak, pasir itu hilang.

Hidup Alcatraz menjadi semakin aneh dan kacau ketika datang Pak Tua yang mengaku sebagai kakeknya. Dia diseret ke dalam misi penyelundupan ke Perpustakaan Pusat Kota untuk mencari pasir yang hilang. Ternyata pasir itu bisa dilebur menjadi suatu benda berbahaya yang dapat membuat dunia jatuh dalam cengkeraman kultus Pustakawan Durjana. Kultus ini bertujuan untuk menguasai semua informasi di dunia dan membiarkan umat manusia tenggelam dalam kebodohan. Sanggupkah Alcatraz melaksanakan misi ini, di tengah-tengah kebimbangannya akan jati diri?

Review:

Tak ada satu pun yang mampu bertahan dengan Alcatraz Smedry. Sudah berkali-kali dia berganti orangtua angkat akibat bakatnya yang luar biasa dalam hal merusak barang. Alcatraz memang kerap merusak barang berharga milik orang lain. Alcatraz menyebut dirinya bocah pembawa bencana yang bisa berjalan. Di mana pun dirinya, siap-siap saja barang-barangmu rusak dan tak bisa digunakan.

Kehidupan Alcatraz berubah saat dia mendapat hadiah ulang tahun ketiga belas berupa sekantong pasir, warisan dari orangtuanya. Alcatraz tak menyangka itu bukan kantong pasir biasa. Pasir itu membawanya bertemu kakeknya Leavenworth Smedry, juga petualangan yang mendebarkan di Perpusakaan Pusat Kota.

Alcatraz sama sekali tak menduga bakatnya yang kerap merusak barang ternyata berguna. Petualangan aneh yang dialaminya pun mengungkap jati dirinya, bahkan orang tua kandungnya yang tak pernah ditemuinya.

***

Sebagai salah satu fans Brandon Sanderson, tentu aku menunggu-nunggu novelnya diterjemahkan dan diterbitkan. Aku mesti berterima kasih pada Mizan Fantasi, karena kali ini menerbitkan seri Alcatraz vs The Evil Librarians. Buku ini masuk nominasi Whitney Awards 2007 dengan kategori fiksi remaja terbaik. Dengan iming-iming nominasi tersebut, tentu membuatku tak sabar membaca buku ini. Aku ingin tahu apakah Brandon Sanderson sanggup membuatku jatuh cinta dengan buku ini, sama seperti ketika aku membaca Elantris?

Dan hasilnya... wow, buku ini menarik! Buku ini memang tak seperti Elantris yang temanya berat. Tema buku ini tergolong ringan khas remaja dengan karakter para tokohnya yang mengundang tawa, dan hal-hal ajaib lainnya yang bernuansa fantastis. Misalnya saja ketika Alcatraz bertemu dinosaurus yang dikurung dalam sangkar. Alcatraz tak menduga dinosaurus ternyata makhluk pintar dan tahu sopan santun. Selama ini, informasi yang diketahuinya tak seperti itu.

"Kau paham, setelah semua yang kulihat hari itu, aku mulai merasa tidak aneh menghadapi keanehan. Fakta bahwa dunia ini memiliki tiga benua tambahan masih membuatku syok. Dibandingkan dengan ini, ruangan berisi dinosaurus mini dalam kandang--yang bisa berbicara maupun tidak--tidaklah aneh." (hal. 126)

Selain hal-hal yang berbau fantastis, aku menyukai bagaimana Brandon Sanderson memberi Bakat pada tokoh-tokohnya. Bakat-bakat tersebut terkesan konyol, tapi anehnya sesuai dan menunjang kisah buku ini. Ambil contoh Bakat Leavenworth Smedry yang suka datang telat. Dengan bakatnya tersebut, Leavenworth tak mempan ditembak, karena dia selalu datang telat setelah peluru ditembakkan. Alhasil, peluru tak akan bisa mengenainya. Aneh sekaligus lucu, bukan? Ajaibnya, penjelasan mengenai bakat tersebut dapat diterima dan terkesan masuk akal.

Buku ini menggunakan sudut pandang Alcatraz Smedry sebagai tokoh utama. Sejak awal, Alcatraz sengaja memberi deskripsi membingungkan di awal bab, bahkan memberi epilog yang melenceng dari cerita, hanya supaya pembaca tertipu saat langsung meloncat ke akhir halaman. Menurutku ini lucu. Jujur saja, aku termasuk pembaca yang suka melihat halaman terakhir buku dan tertipu saat membaca buku ini. Good Job, Alcatraz. Terima kasih telah menipuku. Hahaha.

Overall, buku ini membuatku sangat terhibur. Brandon Sanderson membuktikan kepiawaiannya merangkai plot, dipadu karakter para tokoh yang menarik, dan sisi komedinya yang memancing tawa. Kalau memang menyukai novel fantasi yang temanya ringan, Alcatraz vs The Evil Librarians bisa dijadikan pilihan bacaan Anda. Selamat membaca!

Jun 6, 2017

Falling into Place

0


REVIEW FALLING INTO PLACE

Judul: Falling into Place
Penulis: Amy Zhang
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: POP (Imprint KPG)
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: 327 halaman
ISBN: 978-602-424-199-5

Blurb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan?

Review:

Kadang bunuh diri diasosiasikan dengan pribadi yang pendiam dan terkucil. Liz Emerson tak seperti itu. Dia bukan gadis muram yang menarik diri dari dunia. Alih-alih seperti itu, Liz termasuk golongan cewek populer di sekolah. Dia suka mabuk-mabukan dan ikut pesta di sana-sini. Dengan sifatnya yang liar, Liz seolah memperlihatkan dirinya yang tangguh di hadapan orang-orang, termasuk sahabatnya Kennie dan Julia. 

Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Liz. Liz begitu pandai menyembunyikan kesedihan dan penyesalan atas apa yang dia lakukan. Dia merasa segala hal buruk yang terjadi merupakan kesalahannya. Sayangnya, Liz tak bisa memperbaiki apa yang menurutnya sudah rusak tersebut. Alhasil, Liz makin merasa 'tenggelam' dan 'tak tertolong'.

Sebenarnya, Liz tahu dia mengalami depresi yang mahaparah. Dengan ibu yang sering bepergian, perasaan sepi yang dirasakannya begitu hebat. Hanya saja, saat dia hendak meminta tolong, Liz sangat merasa gengsi. Liz memang gadis yang keras kepala. Terlebih dengan reputasinya, rasanya aneh sekali orang seperti Liz bisa mengalami depresi. Yang Liz tidak tahu, kesedihannya makin lama makin tak terbendung. Dan, ketika dia sudah mencapai batasnya, Liz tak peduli lagi akan keselamatannya sendiri. Yang dia tahu, dia harus mengakhirinya, sebelum semuanya bertambah parah. Karena bagi Liz, untuk hidup pun, dia sudah tidak layak lagi.

***

Awalnya aku sama sekali tidak berniat beli buku ini. Tanpa pertimbangan buku ini bagus atau jelek, recommended atau tidak, aku langsung comot saja di sebuah olshop, karena harganya tergolong murah. Aku sama sekali tak menyangka akan sangat menyukai buku ini. Aku memang tahu buku ini tentang cewek yang hendak bunuh diri (yang mana genre favoritku), tapi aku tak menyangka isinya lebih dari itu. Buku ini benar-benar membiusku, membuatku berkali-kali berhenti membaca, karena tak tahan dengan nuansa suramnya. Selalu ada perasaan sesak tiap mengetahui apa yang dirasakan Liz Emerson. Bab demi bab mengantarku memahami alasan yang membuat Liz mantap mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakkan mobil.

Depresi memang bisa dialami siapa saja. Tak terkecuali Liz yang dilabeli cewek populer. Dengan bab-bab pendek dan alur yang maju-mundur di novel ini, aku mencoba mengakumulasikan kejadian yang dialami Liz yang membuatnya tertekan dan memutuskan untuk bunuh diri. Mulai dari kecelakaan yang dialami ayahnya, kecanduan sahabatnya Julia akan marijuana, aborsi yang dilakukan Kennie, video Liam yang disebarkan Liz... dan masih banyak lagi yang lainnya. Liz merasa dia lah biang keladi dari semua hal itu. Liz memang ceroboh, dia belum mengerti tentang konsekuensi atas perbuatannya—meski awalnya dia melakukannya demi membalas sakit hati sahabatnya sendiri. Bahkan dari hal iseng yang dilakukannya, Liz tak tahu dampak yang ditimbulkan begitu besar dan menakutkan. Ya, terkadang hidup memang seperti itu. Kita tak tahu bagaimana roda hidup seseorang berjalan, terlebih ketika kita ikut andil di dalamnya.

Terlepas dari perbuatan buruk yang dilakukan Liz, aku merasa empati dengan apa yang dia rasakan. Rasanya aku ingin memeluk Liz saat dia merana dan merasa tak berharga sambil berkata, "Kamu memang bersalah, Liz. Tapi itu semua bukan kesalahanmu." Hmm... mungkin aku terlalu menghayati bacaan dan terbuai dengan penderitaan Liz, jadi aku sampai berpikir begitu. Hahaha. Tapi, kuakui itu semua tak terlepas dari narasi menawan Amy Zhang yang membuatku larut dengan ceritanya. Ah ya, terjemahannya pun bagus sekali. Itu juga poin plus kenapa aku begitu terhanyut dengan apa yang dialami Liz.

Untunglah, novel ini berakhir baik, meski tak bisa dibilang happy ending. Yang jelas, Liz mendapatkan kesempatan kedua. Menurutku, Liz pantas mendapatkannya. Dia layak dicintai dan berharap hal-hal baik akan terjadi. Setelah kecelakaan parah yang dialaminya, aku tahu hal itu pasti akan mengubah kepribadian Liz.

Overall, aku puas dengan novel ini. Aku merekomendasikan novel ini bagi siapa pun yang memang suka tema cerita tentang bunuh diri. Nuansanya memang kelam, tapi itu tak mengubah pesan yang ingin disampaikan Amy Zhang di novel ini. Berhubung aku suka cerita yang gloomy dan menekankan pada kondisi kejiwaan seseorang, Falling into Place masuk menjadi salah satu buku favoritku. Yep, I definitely love this book!!

Last, karena banyak sekali kalimat yang quotable, aku menaruhnya di postingan tersendiri. Bisa dicek di sini untuk lebih lengkapnya. Selamat membaca! :)

Falling into Place

0


Quotes Novel "Falling into Place"

Sulit untuk berbohong ketika kebenaran tengah sekarat di hadapanmu (hal. 44)

Kennie memang seperti itu—dia suka diperhatikan. Sementara Julia tidak menyukai perhatian dan Liz tidak sadar kalaupun diperhatikan, Kennie membutuhkan perhatian sebagaimana orang-orang tertentu membutuhkan kokain. Dia jenis orang yang gemar berkata-kata bombastis supaya orang-orang melongo. Dia senang dipandangi dan dibicarakan serta dihakimi, sebab itu artinya seseorang selalu memikirkan dirinya. Demikianlah arti popularitas baginya, dan Kennie, sesungguhnya, senantiasa populer dari dulu. (hal. 51)

Julia juga masuk kelas ini, tapi dia benci berdebat. Bukan berarti dia tidak cakap—dia mungkin bisa memenangi setiap perdebatan hanya dengan kekayaan perbendaharaan katanya—namun dia tidak memahami yang mutlak-mutlak. Dia tidak memahami apa sebabnya satu pihak mesti mutlak benar dan pihak satunya lagi mutlak salah. (hal. 85)

Tetapi sebagian dari diri Liz bertanya-tanya apakah Melody tahu bahwa Liz membutuhkan waktu enam belas tahun untuk memahami (dan itu pun hanya dengan mengambil kutipan Gandhi yang dia temukan di buku pelajaran sejarah): kalau mata dibalas mata, maka butalah seisi dunia. (hal. 102)

Dia mengenal banyak orang, banyak sekali orang, tapi untuk apa? Berapa banyak yang sungguh-sungguh dia pedulikan? Berapa banyak yang sungguh-sungguh peduli padanya? (hal. 117)

Aku tidak perlu mengendalikan ketidaksukaanku kepada umat manusia. Ketidaksukaanku menggila sendiri. (hal. 171)

Liz Emerson memperhatikan sekelilingnya dan melihat bahwa hukum tidak perlu diikuti asalkan kita bisa berkelit sekalipun melanggarnya. (hal. 176)

Lucu, ya? Orang-orang, maksudku. Mereka hanya mempercayai yang bisa mereka lihat. Yang penting cuma penampilan dan tiada yang mempedulikan seperti apa hatinya. Tidak ada yang peduli bahwa hatinya tersayat-sayat. (hal. 177)

Buku pelajaran membuat dunia terkesan hitam-putih dan menarik garis pembatas yang tak dapat diganggu gugat antara yang mungkin dengan yang tidak mungkin, seolah-olah segalanya sudah ditulis hitam di atas putih dan Liz hanya perlu terus bernapas. (hal. 180)

Anehnya, menyebarkan rumor dan menikmati kepedihan orang lain justru membuat ketagihan. Tidak ada yang sanggup menampik daya tariknya. (hal. 216)

Sebagian orang meninggal karena dunia tidak layak menerima mereka. Sebaliknya, Liz Emerson tidak layak berada di dunia. (hal. 260)

Hal paling buruk kalau kita sudah dilupakan adalah—menurutku—masih memperhatikan. (hal. 282)

Semua orang mengenakan topeng, Liam menyimpulkan, Dia sendiri begitu. (hal. 295)

Hidup ini lebih dari sekadar sebab dan akibat. (hal. 318)