Nov 18, 2017

My Empress

0


REVIEW MY EMPRESS

Judul: My Empress
Penulis: Syakia Lingga
Penerbit: Fantasious
Cetakan: I, Juni 2017
Tebal: 584 halaman
ISBN: 978-602-692-290-8

Blurb:

Terkadang, cinta sejati sulit untuk menerima kenyataan perpisahan. Rasa hampa yang ditinggalkan selalu berpusar di dasar hati dan tak mau pergi. Itulah yang dialami oleh Kaisar Tan dari Kerajaan Hanzhi yang kehilangan calon permaisurinya dengan cara yang sangat tragis. Ia merasakan ada yang tidak biasa dari peristiwa nahas itu. Cinta dan duka berpadu menjadi satu, membuatnya menolak melupakan bahkan menggeser posisi Ailan, sang gadis idamannya itu.

Tanpa ia tahu, Ailan dan salah seorang pelayan setia keluarganya berhasil selamat dari pembantaian yang didalangi orang dalam istana. Demi terus hidup, Ailan terpaksa menyamarkan identitas dan menampilkan diri sebagai seorang pemuda desa bernama Lan. Dalam penyamarannya, ia tekun berlatih pedang dan bela diri dari seorang guru misterius. Keinginan mencari tahu apa yang sebenarnya menimpa keluarganya tak pernah padam. Ia tahu harus selalu mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.

Sampai ketika rombongan Kaisar Tan berkunjung ke desa tempatnya tinggal, kesempatan untuk menyelidiki penyerangan keluarganya sembilan tahun silam datang tanpa diduga. Kaisar Tan yang terpesona dengan kepiawaian Lan dalam bela diri, mencari cara untuk bisa membawanya ke istana dan mengangkat pemuda itu sebagai pengawal pribadi, tanpa menyadari bahwa dorongan itu sebenarnya berasal dari kerinduan pada sosok Ailan yang tak pernah sirna.

Di tengah perasaan aneh dan terlarang yang makin muncul di antara keduanya, situasi istana dan Negeri Hanzhiling semakin memanas. Pihak-pihak yang ingin merebut kuasa semakin berani melancarkan serangan diam-diam. Di pundak keduanyalah masa depan cinta mereka dan Kerajaan Hanzhiling berada.

Review:

Kaisar Tan tak bisa melupakan Ailan, gadis yang dia cintai sekaligus calon permaisurinya yang diduga tewas karena dibunuh di hutan. Ketika melihat Lan, Kaisar Tan seperti melihat sosok Ailan dalam diri pemuda itu. Kaisar Tan gundah. Terlebih ketika dia mulai tertarik dengan Lan dan berusaha membuat pemuda itu selalu ada di dekatnya. Sesungguhnya, Kaisar Tan sadar perasaannya tak pada tempatnya, karena dia pun sama-sama laki-laki. Sayangnya, dia tak bisa berhenti menginginkan keberadaan Lan untuk selalu ada di sampingnya.

Sementara itu, akibat tragedi di masa lalu, Ailan terpaksa mengubah namanya menjadi Lan. Dia mesti menyamar menjadi laki-laki dan meninggalkan identitasnya sebagai perempuan. Ketika Kaisar Tan menunjuknya sebagai pengawal pribadi, Lan tahu ini kesempatan yang bagus untuk menyelidiki dalang di balik pembunuhan ayah dan ibunya.

Meski dipenuhi kesalahpahaman, semesta seolah menghendaki Kaisar Tan dan Ailan untuk kembali bersama. Namun, itu rupanya bukan hal yang mudah. Konflik internal kerajaan yang melibatkan pernikahan Kaisar Tan, perebutan tahta, kudeta, bahkan pengkhianatan tak bisa lepas dari keduanya.

***

Novel ini mengambil latar di Kekaisaran Hanzhiling yang dipusatkan pada Kerajaan Hanzhi. Meski setting tempatnya tak ada di dunia nyata, namun penulis memberi keterangan tersendiri di halaman belakang novel untuk menjelaskan seperti apa Kekaisaran Hanzhiling, sistem pemerintahan di Kerajaan Hanzhi, dan tradisi yang ada di sana. Sebelum membaca novel ini, ada baiknya membacanya terlebih dahulu untuk mempermudah memahami seperti apa kondisi yang ingin disampaikan penulis.

Formula cerita di mana seorang perempuan terpaksa mengganti identitasnya menjadi laki-laki tentu lumrah dilihat pada drama-drama Korea. Novel ini pun mengambil tema serupa, di mana Ailan harus menyamar sebagai laki-laki dengan nama Lan setelah insiden yang menewaskan kedua orang tuanya. Pertemuannya dengan Kaisar Tan membawanya kembali ke istana sebagai pengawal pribadi. Setelah peristiwa Kaisar Tan yang nyaris diracun, Lan mulai diserahi tugas untuk mencari dalang di balik pembubuh racun tersebut. Hal inilah yang mengawali serentetan peristiwa yang kemudian merujuk pada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Kaisar Tan dan tradisi Yishi Xuan (tradisi pemilihan calon pendamping kaisar), yang berbuntut pada peristiwa terbunuhnya orang tua Ailan.

Novel ini memiliki cukup banyak konflik internal dalam kerajaan yang menarik untuk diikuti. Untuk meneruskan tahta, Kaisar Tan harus mempunyai keturunan. Dia pun dipaksa menikahi Bhea Jenna, salah satu kandidat Yishi Yuan. Kaisar Tan tak menyukai keputusan yang diputuskan Ibu Suri Loumi tersebut. Dia pun mulai melancarkan serangan tidak sukanya dengan pura-pura menjalin cinta dengan Lan, sehingga menimbulkan kasak-kusuk di istana kalau Kaisar Tan adalah penyuka sesama jenis. Dengan kondisi Lan yang tengah menyaru sebagai laki-laki, tentu terlihat lucu sekali. Terlebih melihat bagaimana frustasinya Kaisar Tan yang menganggap dirinya tak normal, karena sungguh-sungguh tertarik dengan Lan.

Selain masalah rencana pernikahan Kaisar Tan dan Bhea Jenna, ada pula Pangeran Yuan yang diam-diam menaruh perhatian pada Lan. Pangeran Yuan sosok yang misterius. Tindak-tanduknya pun tak terbaca. Di satu sisi dia berada di pihak pemberontak, tapi di sisi lain dia memihak Kaisar Tan. Walau perannya sedikit kabur di awal, tapi pada akhirnya dia mendapat apa yang diidam-idamkannya selama ini untuk menjelajah dunia di luar istana, sesuai titah Kaisar Tan.

“Puaskan dirimu melihat dunia di luar sana,” ujarnya, lantas mengencangkan jemarinya pada bahu sang pangeran. “Namun kau harus ingat jika tempatmu adalah di istana ini. Selamat jalan Shion, kembalilah tanpa kurang suatu apa pun. Kami akan menunggumu.” (hal. 480)

Melihat banyaknya konflik yang disajikan, novel ini tergolong memiliki ritme cerita yang cukup lambat. Adegan demi adegan ditulis secara runtut, tapi memiliki keterkaitan satu sama lain. Walau demikian, tak ada satu adegan pun yang terbuang percuma dalam novel ini. Begitu pula dengan para tokoh yang dimunculkan, mulai dari tokoh utama, tokoh pendukung, bahkan sampai figuran. Semuanya diatur sedemikian rupa dan diramu secara apik, demi menunjang plot yang dirancang oleh penulis.

Selain dari segi plot yang apik, ada bagian dalam novel ini yang bermakna filosofis. Di novel ini diceritakan ada seorang cendekiawan bernama Kung Thosi yang hidup pada masa kakek buyut Kaisar Tan. Pemikiran Kung Thosi yang dituangkan dalam biografinya inilah yang dikagumi Kaisar Tan:

Karena itu, Li Huang, bagiku bumi dan langit adalah kesetaraan. Karena kita tidak akan pernah melupakan keagungan langit yang memberikan berkah, namun juga tidak dapat hidup jika bukan di atas bumi yang mereka sebut hina. (hal. 144)

Puncak kehidupan yang sempurna itu bukanlah ketika kau menggenggam kekuasaan di tanganmu, bukan juga saat kau membuat orang-orang tunduk pada titahmu. Kesempurnaan itu, adalah ketika kau mengerti makna hidup. Merasakan sederhana dalam kekayaan, mengerti sedih yang akan menjelaskanmu artinya bahagia, dan terluka yang akhirnya akan tersembuhkan oleh cinta. (hal. 502)

Puncak kehidupan untukmu, adalah ketika kau mendapatkan kasih sayang dari orang-orang berjiwa setia, serta mampu membalasnya dengan cinta yang sama besar. Seperti cinta pada orang tua kepada putra-putrinya, atau seperti cinta sepasang kasih, juga cinta seorang kaisar yang mulia kepada para rakyatnya. (hal. 502)

Melihat kelebihan novel ini, dapat disimpulkan bahwa tak semua cerita yang berasal dari Wattpad itu buruk dan hanya mengandalkan jumlah viewer. Dari segi gaya tulisan, plot yang disajikan, penyelesaian konflik yang tak terburu-buru, bahkan sisi komedi di beberapa tempat, memberikan pengalaman yang menyenangkan saat membaca novel ini. Penulis juga memberi satu pesan sederhana yang tersirat, yaitu mengenai takdir antara dua insan. Lewat perjalanan cinta Kaisar Tan dan Ailan, dapat dilihat ketika dua orang memang ditakdirkan untuk bersama, maka pada akhirnya mereka pasti akan bersatu.

Pada akhirnya, kau akan kembali pada takdir yang telah memanggil.

Rate: 4/5 bintang

Nov 9, 2017

The Girl You Left Behind

0


REVIEW THE GIRL YOU LEFT BEHIND

Judul: The Girl You Left Behind (Gadis yang Kautinggalkan)
Penulis: Jojo Moyes
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2015
Tebal: 672 halaman
ISBN: 978-602-031-549-2

Blurb:

Prancis, 1916. Edouard LefĂ©vre, pelukis, meninggalkan istrinya yang masih muda, Sophie, untuk ikut berperang di garis depan. Ketika kota tempat tinggal mereka jatuh ke tangan Jerman, lukisan Edouard yang menggambarkan sosok Sophie menarik perhatian Kommandant Jerman yang baru. Makin lama sang Kommandant semakin terobsesi oleh lukisan itu, dan Sophie pun rela mempertaruhkan segalanya––keluarga, reputasi, dan hidupnya––demi bisa bertemu suaminya lagi.

Hampir seabad kemudian, Liv Halston mendapatkan lukisan Sophie dari suaminya, David, sebelum David meninggal. Ketika nilai lukisan itu terkuak, timbul konflik tentang siapa sesungguhnya pemilik sahnya––dan Liv harus menghadapi ujian berat demi mempertahankan lukisan itu.

Review:

Edouard Lefevre adalah seorang pelukis yang tinggal di Perancis pada era tahun 1900-an. Dia melukis "Gadis yang Kautinggalkan" untuk istrinya Sophie. Lukisan ini menemui polemik atas kepemilikan di masa sekarang, mengingat penjajahan Jerman atas Perancis pada era Perang Dunia I. Pada masa itu, pihak Jerman banyak menjarah barang milik warga, termasuk karya seni. Undang-undang pun diatur untuk mengembalikan karya seni yang pernah dicuri di masa lalu pada keturunannya yang sah di masa sekarang.

Olivia Halston adalah pemilik "Gadis yang Kautinggalkan" di masa sekarang. Lukisan tersebut dihadiahkan suaminya David sebagai kado perkawinan. Liv tak bisa melupakan suaminya yang telah meninggal bertahun-tahun silam. Itulah yang menyebabkan Liv merasakan ikatan yang kuat pada lukisan pemberian David. Saat ada keturunan Lefevre yang mengaku berhak memiliki "Gadis yang Kautinggalkan", Liv pun tak tinggal diam. Dia berusaha keras mempertahankan lukisan tersebut, meski harus berjuang di pengadilan dan melawan Paul McCafferty, pria yang dikasihinya.

Liv dan Paul bisa saja memulai hidup baru mereka sebagai pasangan yang romantis. Namun, kasus lukisan "Gadis yang Kautinggalkan" menyulut permusuhan, karena mereka berada di pihak yang berseberangan. Paul harus memastikan kliennya mendapat kembali lukisan tersebut. Sementara Liv tak mau dibujuk untuk melepas kasus itu.

Pada akhirnya, masing-masing pihak berusaha menguak sejarah mengenai lukisan "Gadis yang Kautinggalkan". Saat Liv tahu harus melepas lukisan kesayangannya, kebenaran yang sesungguhnya pun terkuak. Bahwa kasus ini diawali dengan premis yang salah, karena sesungguhnya tak ada pencurian apa pun atas lukisan "Gadis yang Kautinggalkan".

***

Mengambil latar waktu tahun 1916 dan 2016, novel ini begitu sarat emosi. Pada bab-bab yang mengambil latar tahun 1916, pembaca diajak melihat kenyataan penjajahan Jerman pada era Perang Dunia I, tepatnya di St. Peronne. Tentara Jerman dikisahkan begitu kejam dan tak berperasaan. Para warga pun dipaksa melayani tentara Jerman. Kalau menolak, maka akan ada ancaman yang diberikan:

"Tetapi kemudian Kommandant Brecker mengumumkan bahwa pemilik toko yang tidak membuka tokonya pada jam-jam kerja biasa, akan ditembak." (hal. 31)

Meski demikian, ada sisi lain dari masa pendudukan Jerman. Seorang Komandan Jerman bernama Friedrich Hencken yang bertugas di St. Peronne tampak manusiawi dan memperlakukan Sophie beserta keluarganya dengan baik. Lambat laun, Sophie bisa merasakan kebaikan Sang Komandan. Hanya saja para warga St. Peronne yang skeptis malah membuat Sophie dilabeli pengkhianat. Saat dia dibawa paksa tentara Jerman, Sophie hanya berharap dia bisa dipertemukan dengan suaminya Edouard. Dia mencoba bertahan sembari percaya penuh dengan kebaikan Sang Komandan.

Cinta sejati akan menemukan jalannya untuk bersatu. Seperti itulah yang terlihat dari kisah Sophie dan Edouard. Klimaks cerita ini adalah saat pertemuan Sophie dan Edouard. Adegan ini begitu mengaduk emosi, karena awalnya Sophie nyaris kehilangan harapan dan bersiap untuk mati:

"Tetapi, oh, Tuhan, wajahnya. Wajah dia. Edouard-ku. Aku tidak kuat lagi menanggungnya. Wajahku tertengadah ke atas, tasku lepas dari genggaman, dan aku pun tersungkur ke tanah. Dan sewaktu aku jatuh, kurasakan kedua tangannya memeluk dan merangkulku." (hal. 641-642)

Persidangan demi persidangan yang dilalui Liv pun memberi gejolak, karena memperlihatkan betapa rumit kasus atas hak kepemilikan lukisan "Gadis yang Kautinggalkan". Paul akhirnya mengambil keputusan yang berani. Dia memutuskan untuk berhenti menangani kliennya dan membantu Liv. Dia melakukannya semata-mata karena mencintai Liv. Paul sadar ada yang lebih penting dibanding memenangkan sebuah kasus di pengadilan, yaitu cintanya pada Liv.

Membaca novel ini begitu memberi kesan yang tak sanggup dilupakan. Penggambaran situasinya terasa amat nyata. Diksinya pun sangat menyentuh. Mau tak mau pembaca diajak merasakan ketegaran Sophie, betapa putus asanya dia, dan kelegaannya karena bisa bersatu kembali dengan yang terkasih.

Novel ini pun membuat pembaca percaya kalau harapan itu masih ada selama kita meyakininya. Lewat perjalanan cinta Sophie dan Edouard, kita dibuat percaya bahwa kebahagiaan sejati itu nyata, seperti yang dirasakan Edouard pada Sophie:

"Aku tak pernah tahu kebahagiaan sejati sampai aku mengenalmu." (hal. 461)

Untuk novel yang begitu mengharubiru ini, tak cukup rasanya menyematkan hanya 5/5 bintang. Kalau bisa, ingin memberi rating lebih dari itu. Yang jelas, novel ini amat sangat menarik dan layak direkomendasikan kepada siapa saja penyuka kisah romance dan yang ingin tahu sekelumit kisah pada era Perang Dunia I.

Alcatraz Vs. The Evil Librarians

0


REVIEW ALCATRAZ VS. THE EVIL LIBRARIANS

Judul: Alcatraz vs The Evil Librarians
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2017
Tebal: 288 halaman
ISBN: 978-602-610-997-2

Blurb:

Seumur hidupnya, Alcatraz Smedry telah tinggal bersama puluhan orangtua angkat. Tak ada yang sanggup menghadapi Bakat Alcatraz yang luar biasa dalam merusak barang. Di ulang tahunnya yang ketiga belas, Alcatraz mendapat sekantong pasir, warisan dari orangtua kandungnya. Sebelum Alcatraz sempat mencari tahu lebih banyak, pasir itu hilang.

Hidup Alcatraz menjadi semakin aneh dan kacau ketika datang Pak Tua yang mengaku sebagai kakeknya. Dia diseret ke dalam misi penyelundupan ke Perpustakaan Pusat Kota untuk mencari pasir yang hilang. Ternyata pasir itu bisa dilebur menjadi suatu benda berbahaya yang dapat membuat dunia jatuh dalam cengkeraman kultus Pustakawan Durjana. Kultus ini bertujuan untuk menguasai semua informasi di dunia dan membiarkan umat manusia tenggelam dalam kebodohan. Sanggupkah Alcatraz melaksanakan misi ini, di tengah-tengah kebimbangannya akan jati diri?

Review:

Tak ada satu pun yang mampu bertahan dengan Alcatraz Smedry. Sudah berkali-kali dia berganti orangtua angkat akibat bakatnya yang luar biasa dalam hal merusak barang. Alcatraz memang kerap merusak barang berharga milik orang lain. Alcatraz menyebut dirinya bocah pembawa bencana yang bisa berjalan. Di mana pun dirinya, siap-siap saja barang-barangmu rusak dan tak bisa digunakan.

Kehidupan Alcatraz berubah saat dia mendapat hadiah ulang tahun ketiga belas berupa sekantong pasir, warisan dari orangtuanya. Alcatraz tak menyangka itu bukan kantong pasir biasa. Pasir itu membawanya bertemu kakeknya Leavenworth Smedry, juga petualangan yang mendebarkan di Perpusakaan Pusat Kota.

Alcatraz sama sekali tak menduga bakatnya yang kerap merusak barang ternyata berguna. Petualangan aneh yang dialaminya pun mengungkap jati dirinya, bahkan orang tua kandungnya yang tak pernah ditemuinya.

***

Sebagai salah satu fans Brandon Sanderson, tentu aku menunggu-nunggu novelnya diterjemahkan dan diterbitkan. Aku mesti berterima kasih pada Mizan Fantasi, karena kali ini menerbitkan seri Alcatraz vs The Evil Librarians. Buku ini masuk nominasi Whitney Awards 2007 dengan kategori fiksi remaja terbaik. Dengan iming-iming nominasi tersebut, tentu membuatku tak sabar membaca buku ini. Aku ingin tahu apakah Brandon Sanderson sanggup membuatku jatuh cinta dengan buku ini, sama seperti ketika aku membaca Elantris?

Dan hasilnya... wow, buku ini menarik! Buku ini memang tak seperti Elantris yang temanya berat. Tema buku ini tergolong ringan khas remaja dengan karakter para tokohnya yang mengundang tawa, dan hal-hal ajaib lainnya yang bernuansa fantastis. Misalnya saja ketika Alcatraz bertemu dinosaurus yang dikurung dalam sangkar. Alcatraz tak menduga dinosaurus ternyata makhluk pintar dan tahu sopan santun. Selama ini, informasi yang diketahuinya tak seperti itu.

"Kau paham, setelah semua yang kulihat hari itu, aku mulai merasa tidak aneh menghadapi keanehan. Fakta bahwa dunia ini memiliki tiga benua tambahan masih membuatku syok. Dibandingkan dengan ini, ruangan berisi dinosaurus mini dalam kandang--yang bisa berbicara maupun tidak--tidaklah aneh." (hal. 126)

Selain hal-hal yang berbau fantastis, aku menyukai bagaimana Brandon Sanderson memberi Bakat pada tokoh-tokohnya. Bakat-bakat tersebut terkesan konyol, tapi anehnya sesuai dan menunjang kisah buku ini. Ambil contoh Bakat Leavenworth Smedry yang suka datang telat. Dengan bakatnya tersebut, Leavenworth tak mempan ditembak, karena dia selalu datang telat setelah peluru ditembakkan. Alhasil, peluru tak akan bisa mengenainya. Aneh sekaligus lucu, bukan? Ajaibnya, penjelasan mengenai bakat tersebut dapat diterima dan terkesan masuk akal.

Buku ini menggunakan sudut pandang Alcatraz Smedry sebagai tokoh utama. Sejak awal, Alcatraz sengaja memberi deskripsi membingungkan di awal bab, bahkan memberi epilog yang melenceng dari cerita, hanya supaya pembaca tertipu saat langsung meloncat ke akhir halaman. Menurutku ini lucu. Jujur saja, aku termasuk pembaca yang suka melihat halaman terakhir buku dan tertipu saat membaca buku ini. Good Job, Alcatraz. Terima kasih telah menipuku. Hahaha.

Overall, buku ini membuatku sangat terhibur. Brandon Sanderson membuktikan kepiawaiannya merangkai plot, dipadu karakter para tokoh yang menarik, dan sisi komedinya yang memancing tawa. Kalau memang menyukai novel fantasi yang temanya ringan, Alcatraz vs The Evil Librarians bisa dijadikan pilihan bacaan Anda. Selamat membaca!

Jun 6, 2017

Falling into Place

0


REVIEW FALLING INTO PLACE

Judul: Falling into Place
Penulis: Amy Zhang
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: POP (Imprint KPG)
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: 327 halaman
ISBN: 978-602-424-199-5

Blurb:

Di hari ketika Liz Emerson mencoba bunuh diri, Hukum Gerak Newton dibahas di kelas Fisika. Kelembaman, gaya, massa, gravitasi, kecepatan, percepatan... semua itu belum masuk benar ke kepalanya, tetapi seusai sekolah Liz mempraktikkan hukum-hukum itu dengan melajukan mobilnya ke luar jalan raya.

Kini Liz terbaring sekarat di rumah sakit, dan dia bisa meninggal kapan saja. Seperti halnya Liz tidak memahami Hukum Gerak Newton, orang-orang juga tidak memahami kenapa kejadian nahas ini menimpa Liz Emerson, gadis paling populer dan paling tangguh di Meridian. Tetapi aku paham. Aku bersamanya sewaktu mobil menabrak pagar pembatas jalan dan berakhir di dasar bukit. Aku paham kenapa kami jatuh bebas di tempat itu di minggu ketiga bulan Januari. Aku tahu alasan Liz mengakhiri hidupnya. Aku paham kesedihan yang dialami Liz, alangkah kesepiannya dia dan betapa hancur hatinya.

Setiap aksi menghasilkan reaksi. Namun Liz Emerson tidak perlu lenyap dari dunia ini, bukan?

Review:

Kadang bunuh diri diasosiasikan dengan pribadi yang pendiam dan terkucil. Liz Emerson tak seperti itu. Dia bukan gadis muram yang menarik diri dari dunia. Alih-alih seperti itu, Liz termasuk golongan cewek populer di sekolah. Dia suka mabuk-mabukan dan ikut pesta di sana-sini. Dengan sifatnya yang liar, Liz seolah memperlihatkan dirinya yang tangguh di hadapan orang-orang, termasuk sahabatnya Kennie dan Julia. 

Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Liz. Liz begitu pandai menyembunyikan kesedihan dan penyesalan atas apa yang dia lakukan. Dia merasa segala hal buruk yang terjadi merupakan kesalahannya. Sayangnya, Liz tak bisa memperbaiki apa yang menurutnya sudah rusak tersebut. Alhasil, Liz makin merasa 'tenggelam' dan 'tak tertolong'.

Sebenarnya, Liz tahu dia mengalami depresi yang mahaparah. Dengan ibu yang sering bepergian, perasaan sepi yang dirasakannya begitu hebat. Hanya saja, saat dia hendak meminta tolong, Liz sangat merasa gengsi. Liz memang gadis yang keras kepala. Terlebih dengan reputasinya, rasanya aneh sekali orang seperti Liz bisa mengalami depresi. Yang Liz tidak tahu, kesedihannya makin lama makin tak terbendung. Dan, ketika dia sudah mencapai batasnya, Liz tak peduli lagi akan keselamatannya sendiri. Yang dia tahu, dia harus mengakhirinya, sebelum semuanya bertambah parah. Karena bagi Liz, untuk hidup pun, dia sudah tidak layak lagi.

***

Awalnya aku sama sekali tidak berniat beli buku ini. Tanpa pertimbangan buku ini bagus atau jelek, recommended atau tidak, aku langsung comot saja di sebuah olshop, karena harganya tergolong murah. Aku sama sekali tak menyangka akan sangat menyukai buku ini. Aku memang tahu buku ini tentang cewek yang hendak bunuh diri (yang mana genre favoritku), tapi aku tak menyangka isinya lebih dari itu. Buku ini benar-benar membiusku, membuatku berkali-kali berhenti membaca, karena tak tahan dengan nuansa suramnya. Selalu ada perasaan sesak tiap mengetahui apa yang dirasakan Liz Emerson. Bab demi bab mengantarku memahami alasan yang membuat Liz mantap mengakhiri hidupnya dengan cara menabrakkan mobil.

Depresi memang bisa dialami siapa saja. Tak terkecuali Liz yang dilabeli cewek populer. Dengan bab-bab pendek dan alur yang maju-mundur di novel ini, aku mencoba mengakumulasikan kejadian yang dialami Liz yang membuatnya tertekan dan memutuskan untuk bunuh diri. Mulai dari kecelakaan yang dialami ayahnya, kecanduan sahabatnya Julia akan marijuana, aborsi yang dilakukan Kennie, video Liam yang disebarkan Liz... dan masih banyak lagi yang lainnya. Liz merasa dia lah biang keladi dari semua hal itu. Liz memang ceroboh, dia belum mengerti tentang konsekuensi atas perbuatannya—meski awalnya dia melakukannya demi membalas sakit hati sahabatnya sendiri. Bahkan dari hal iseng yang dilakukannya, Liz tak tahu dampak yang ditimbulkan begitu besar dan menakutkan. Ya, terkadang hidup memang seperti itu. Kita tak tahu bagaimana roda hidup seseorang berjalan, terlebih ketika kita ikut andil di dalamnya.

Terlepas dari perbuatan buruk yang dilakukan Liz, aku merasa empati dengan apa yang dia rasakan. Rasanya aku ingin memeluk Liz saat dia merana dan merasa tak berharga sambil berkata, "Kamu memang bersalah, Liz. Tapi itu semua bukan kesalahanmu." Hmm... mungkin aku terlalu menghayati bacaan dan terbuai dengan penderitaan Liz, jadi aku sampai berpikir begitu. Hahaha. Tapi, kuakui itu semua tak terlepas dari narasi menawan Amy Zhang yang membuatku larut dengan ceritanya. Ah ya, terjemahannya pun bagus sekali. Itu juga poin plus kenapa aku begitu terhanyut dengan apa yang dialami Liz.

Untunglah, novel ini berakhir baik, meski tak bisa dibilang happy ending. Yang jelas, Liz mendapatkan kesempatan kedua. Menurutku, Liz pantas mendapatkannya. Dia layak dicintai dan berharap hal-hal baik akan terjadi. Setelah kecelakaan parah yang dialaminya, aku tahu hal itu pasti akan mengubah kepribadian Liz.

Overall, aku puas dengan novel ini. Aku merekomendasikan novel ini bagi siapa pun yang memang suka tema cerita tentang bunuh diri. Nuansanya memang kelam, tapi itu tak mengubah pesan yang ingin disampaikan Amy Zhang di novel ini. Berhubung aku suka cerita yang gloomy dan menekankan pada kondisi kejiwaan seseorang, Falling into Place masuk menjadi salah satu buku favoritku. Yep, I definitely love this book!!

Last, karena banyak sekali kalimat yang quotable, aku menaruhnya di postingan tersendiri. Bisa dicek di sini untuk lebih lengkapnya. Selamat membaca! :)

Falling into Place

0


Quotes Novel "Falling into Place"

Sulit untuk berbohong ketika kebenaran tengah sekarat di hadapanmu (hal. 44)

Kennie memang seperti itu—dia suka diperhatikan. Sementara Julia tidak menyukai perhatian dan Liz tidak sadar kalaupun diperhatikan, Kennie membutuhkan perhatian sebagaimana orang-orang tertentu membutuhkan kokain. Dia jenis orang yang gemar berkata-kata bombastis supaya orang-orang melongo. Dia senang dipandangi dan dibicarakan serta dihakimi, sebab itu artinya seseorang selalu memikirkan dirinya. Demikianlah arti popularitas baginya, dan Kennie, sesungguhnya, senantiasa populer dari dulu. (hal. 51)

Julia juga masuk kelas ini, tapi dia benci berdebat. Bukan berarti dia tidak cakap—dia mungkin bisa memenangi setiap perdebatan hanya dengan kekayaan perbendaharaan katanya—namun dia tidak memahami yang mutlak-mutlak. Dia tidak memahami apa sebabnya satu pihak mesti mutlak benar dan pihak satunya lagi mutlak salah. (hal. 85)

Tetapi sebagian dari diri Liz bertanya-tanya apakah Melody tahu bahwa Liz membutuhkan waktu enam belas tahun untuk memahami (dan itu pun hanya dengan mengambil kutipan Gandhi yang dia temukan di buku pelajaran sejarah): kalau mata dibalas mata, maka butalah seisi dunia. (hal. 102)

Dia mengenal banyak orang, banyak sekali orang, tapi untuk apa? Berapa banyak yang sungguh-sungguh dia pedulikan? Berapa banyak yang sungguh-sungguh peduli padanya? (hal. 117)

Aku tidak perlu mengendalikan ketidaksukaanku kepada umat manusia. Ketidaksukaanku menggila sendiri. (hal. 171)

Liz Emerson memperhatikan sekelilingnya dan melihat bahwa hukum tidak perlu diikuti asalkan kita bisa berkelit sekalipun melanggarnya. (hal. 176)

Lucu, ya? Orang-orang, maksudku. Mereka hanya mempercayai yang bisa mereka lihat. Yang penting cuma penampilan dan tiada yang mempedulikan seperti apa hatinya. Tidak ada yang peduli bahwa hatinya tersayat-sayat. (hal. 177)

Buku pelajaran membuat dunia terkesan hitam-putih dan menarik garis pembatas yang tak dapat diganggu gugat antara yang mungkin dengan yang tidak mungkin, seolah-olah segalanya sudah ditulis hitam di atas putih dan Liz hanya perlu terus bernapas. (hal. 180)

Anehnya, menyebarkan rumor dan menikmati kepedihan orang lain justru membuat ketagihan. Tidak ada yang sanggup menampik daya tariknya. (hal. 216)

Sebagian orang meninggal karena dunia tidak layak menerima mereka. Sebaliknya, Liz Emerson tidak layak berada di dunia. (hal. 260)

Hal paling buruk kalau kita sudah dilupakan adalah—menurutku—masih memperhatikan. (hal. 282)

Semua orang mengenakan topeng, Liam menyimpulkan, Dia sendiri begitu. (hal. 295)

Hidup ini lebih dari sekadar sebab dan akibat. (hal. 318)

May 20, 2017

Wonder Fall

0


REVIEW WONDER FALL

Judul: Wonder Fall
Penulis: Elektra Queen
Penerbit: Twigora
Cetakan: I, Juli 2016
Tebal: 328 halaman
ISBN: 978-602-70362-6-0

Blurb:

SHE SAID...
Amelie Rashad memilih untuk menggigit lidahnya kuat-kuat ketimbang mengakui kalau debaran hebat jantungnya disebabkan oleh Zach Barata. Dia lebih suka melihat Zach sebagai atasan galak dan perfeksionis ketimbang sosok hangat yang juga begitu mudah akrab dengan putri semata wayangnya.

HE SAID...
Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga Amelie menyusup dalam ruang pribadi, menggedor keras-keras pintu hatinya. Alih-alih menyerah, sikap menentang perempuan itu membuat Zach bertambah penasaran. Ketika mengetahui status orangtua tunggal Amelie, ketertarikan itu kemudian menyublim menjadi rasa hormat.

IS IT LOVE?
Percik-percik perasaan di antara mereka kedua nyata adanya dan tak satu pun mampu menyangkalnya. Namun, ketika Zach siap untuk membuka hatinya, dia malah mendapati perhatian perempuan itu terbelah karena rencana perjodohan dengan kembaran mendiang suaminya. Sudikah Zach bersaing dengan laki-laki yang mengingatkan Amelie pada sosok dari masa lalunya? Atau, sebaiknya dia membiarkan saja hubungan mereka kembali seperti semula, selayaknya atasan dengan asistennya?

 Review:

Status janda membuat hidup Amelie Rashad tak lagi mudah. Sering kali muncul selentingan gosip mengenai dirinya, meski interaksinya dengan lawan jenis tergolong biasa saja. Sebagai perempuan dewasa, Amelie tak bisa membendung pikiran negatif orang-orang mengenai dirinya. Ia pun mencoba menjadi ibu yang baik demi putri semata wayangnya Elsa dan berusaha melupakan prahara dengan suaminya yang meninggal karena kecelakaan.

Kesabaran Amelie teruji saat Jonas, bosnya di kantor memintanya menjadi asisten Zach Barata. Zach terkenal sebagai pribadi yang ketus, sinis, dan tanpa ampun. Dengan sifat yang buruk tersebut, sudah beberapa kali Zach memberhentikan asistennya. Melihat reputasi Zach, tentu membuat Amelie was-was. Apalagi Zach bukan tipe laki-laki yang mau berkompromi. Untunglah ketika mereka bersitegang untuk pertama kali, Amelie berani menyuarakan pendapatnya mengenai cara Zach berkomunikasi. Zach pun mau menuruti keinginan Amelie untuk lebih bisa meredam nada sinis pada kata-katanya.

Hubungan Amelie dan Zach tak lagi kaku dan mulai mencair saat Lionel, keponakan Zach datang ke kantor. Lionel terlihat menyukai Amelie. Amelie yang tahu Lionel kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan, merasa kasihan pada Lionel. Lionel mengingatkannya pada Elsa yang juga kehilangan sang ayah. Tanpa bisa dicegah, Amelie pun jadi menyayangi Lionel. Bahkan saat Lionel keracunan makanan, Amelie mau menunggui anak itu di rumah sakit, meski Zach tak memintanya sama sekali.

Hidup Amelie makin rumit saat mertuanya yang suka ikut campur ingin agar Amelie menikah dengan Otto, saudara kembar suaminya yang selama ini hidup di luar negeri. Sikap Amelie yang kurang tegas seperti dimanfaatkan mertuanya itu. Amelie pun jadi bimbang. Di satu sisi, ia tak memiliki perasaan apa pun pada Otto. Kedekatan putrinya Elsa dan Zach pun menjadi pertimbangan tersendiri. Ia tak mungkin bersama Otto yang tidak disukai putrinya. Terlebih selalu ada sensasi aneh tiap ia berdekatan dengan Zach, meski Amelie belum yakin apa yang dirasakannya tersebut.

Pada akhirnya, Amelie harus memilih. Amelie belajar bahwa ia tak bisa selalu menyenangkan semua pihak. Meski itu berarti ada pihak yang kecewa, tapi ia tahu itu yang terbaik bagi dirinya dan putrinya Elsa.

***

Tak bisa dipungkiri, status janda sedikit berkonotasi negatif bagi sebagian orang. Hal ini bisa dilihat dari olok-olok yang biasa didengar, seperti, 'Dasar janda kegatelan' yang kerap ditujukan pada janda. Amelie sebagai tokoh utama novel ini pun berpikiran serupa:

"Suka atau tidak, sebagian masyarakat kita masih beranggapan kalau janda itu adalah status nyaris hina yang dianggap sebagai ancaman. Yang orang tahu, para janda cenderung suka mengganggu laki-laki lain, baik yang masih sendiri atau sudah punya pasangan. Kesepian adalah alasan utama yang dipercayai." (hal. 107)

Meski tak semua orang melihat status janda sebagai sesuatu yang negatif, tapi Amelie seakan menerima mentah-mentah opini tersebut. Itulah sebabnya ia begitu berhati-hati dalam bersikap karena tak ingin ada orang yang menggunjingkannya. Untunglah keluarga Amelie dan Zach terus mengingatkan Amelie kalau ia harus mulai mengubah pola pikirnya, karena tak ada yang salah dengan statusnya. Amelie tetap wanita yang berkepribadian baik, pekerja keras, dan pencinta anak-anak. Menurutku pribadi, inilah yang ingin ditekankan penulis. Bahwa siapa pun yang berstatus janda harus lebih menghargai dirinya sendiri dan tak usah peduli dengan omongan orang lain.

Dalam kehidupan berumah tangga, pasti ada saja masalah. Dalam novel Wonder Fall, masalah Amelie yang paling krusial berhubungan dengan mertuanya yang suka ikut campur dan kebiasaan buruk mendiang suaminya yang berbuntut panjang, bahkan setelah suaminya tiada. Aku salut dengan sikap Amelie yang begitu dewasa dalam menyikapi masalah yang menimpanya. Mungkin awalnya Amelie cenderung sungkan dan terlalu memikirkan orang lain, tapi pada akhirnya situasi mendewasakannya bahwa kebahagiaannya tak boleh didikte orang lain.

Sebagai novel bergenre romance, banyak sekali adegan dalam novel ini yang membuatku tersenyum. Interaksi Amelie dan Zach—baik di dalam dan di luar kantor—sanggup menumbuhkan chemistry yang kuat di antara keduanya. Terlebih kehadiran Elsa dan Lionel seakan menguatkan ikatan antara Amelie dan Zach, yang mana keduanya begitu menyayangi anak-anak.

Seperti yang diketahui, Wonder Fall adalah juara pertama kompetisi menulis yang diselenggarakan Twigora dengan tema Sweet and Spicy Romance 2015. Tentu para juri punya pertimbangan sendiri saat memutuskan Wonder Fall menjadi juara pertama. Saat menamatkan novel ini, aku sedikit paham kenapa Wonder Fall merebut perhatian juri. Pemilihan tema dan konflik dalam Wonder Fall sangat apik dan menarik untuk diikuti. Dengan semua kelebihan tersebut, Wonder Fall layak mendapat tempat di hati pembaca, karena novel ini tak hanya menyajikan roman antara dua insan, tapi juga sekelumit kisah seorang janda beserta keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Mar 19, 2017

Percy Jackson's Greek Gods

0


REVIEW PERCY JACKSON'S GREEK GODS

Judul:  Percy Jackson's Greek Gods
Penulis: Rick Riordan
Ilustrasi: John Rocco
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Juli 2015
Tebal: 402 halaman
ISBN: 978-602-0989-88-4

Blurb:

Siapa yang bisa mengisahkan tentang awal mula kelahiran Dewa-Dewi Olympia lebih baik daripada demigod masa kini?

Sesungguhnya, Percy Jackson benar-benar tak ingin mengusik Dewa-Dewi Olympia dan membuat mereka marah kepadanya. Namun, demi keselamatan sesama blasteran atau demigod, dan juga para manusia, Percy pun berbaik hati mempertaruhkan nyawanya menuliskan semua yang dia ketahui tentang Dewa-Dewi Yunani Kuno dalam buku ini. Semua dilakukannya agar kita bisa mengenali mereka dan bertahan hidup saat bertemu mereka—yah, siapa tahu tiba-tiba mereka muncul di hadapan kita.

Jadi, jika kau menyukai kisah nyata penipuan, pencurian, pengkhianatan, dan bahkan kanibalisme, bacalah terus, karena jelas inilah Masa Keemasan bagi semua hal mengerikan itu. Bagi kalian yang masih awam dengan mitologi Yunani, maupun yang sudah sangat paham, buku yang sangat menghibur ini akan membuat kisah-kisah dari masa lampau itu jadi relevan dan sulit dilupakan.

Review:

Sekarang saatnya untuk berkenalan dengan para dewa-dewi, secara lebih dekat dan personal. Hanya saja waspadalah, sebagian dari kisah mereka mungkin akan membuatmu merasa sama seperti Kronos usai menenggak segelas penuh nektar mustard. (hal. 61)

Jujur saja, aku awam dengan mitologi Yunani. Memang aku sering mendengar nama Zeus, Hades, atau Athena. Tapi kisah-kisah mereka? Ehm, aku masih belum tertarik mengulik secara mendalam mengenai kehidupan dewa-dewi Yunani. Pada dasarnya, aku memang malas membaca hal-hal yang berbau sejarah atau legenda. Yang ada di bayanganku, kisah mereka pasti membosankan dan (bisa saja) sama sekali tidak menarik.

Tapi, semua asumsiku itu terbantahkan ketika aku membaca Percy Jackson's Greek Gods karya Rick Riordan. Kesan pertamaku adalah... WOW!! Seriously, buku ini amat sangat menarik! Malah aku tak menyangka ternyata mitologi Yunani itu seru juga. Terutama sifat para dewa-dewinya yang kelewat ajaib. Lewat narasi Percy yang lucu, aku diantar untuk menyelami awal mula kehidupan, munculnya titan, cyclops, tangan seratus, dan tentu saja kisah para dewa-dewi Yunani yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Percy mengawali buku ini dengan menceritakan dewa pertama yang bernama Kaos (Chaos). Dari Kaos, terbentuklah Bumi yang menjelma sebagai manusia bernama Gaea. Tak lama, muncullah sang langit yang bernama Ouronos. Dari Gaea dan Ouronos, lahirlah para titan, cyclops, dan tangan seratus. Tak lama, terjadi pemberontakan di mana Kronos membunuh Ouronos, ayahnya sendiri. Bersama Rhea, Kronos memiliki anak dewa-dewi yang rupawan. Sayangnya, Kronos hobi memakan anaknya sendiri akibat takut kutukan kalau anaknya akan merebut tahtanya menjadi kenyataan.

Bab-bab selanjutnya mulai menceritakan tentang dewa-dewi Olympus. Semuanya diceritakan secara berurutan, mulai dari Hestia, Demeter, Persephone, Hera, Hades, Poseidon, Zeus, Athena, Aphrodite, Ares, Hephaestus, Apollo, Artemis, Hermes, dan terakhir Dionysus. 

Dari semua dewa-dewi itu, favoritku adalah Hades. Alasannya karena aku memang suka makhluk muram dan murung macam Hades. Menurutku daripada sosok yang tampan, cantik, atau menawan, penampilan dan sifat Hades lebih membuatku tertarik. Meski penampilannya muram, tapi sesungguhnya dia memiliki hati yang lembut. Misalnya saja waktu Hades diam-diam membuatkan taman untuk Persephone. Yah, walau tak bisa ditampik kalau Hades seorang penguntit dan pelaku penculikan Persephone, tapi Hades tak pernah berbuat kasar pada Persephone. Dia melakukan hal itu karena memang tulus mencintai Persephone. Aw, menurutku itu so sweet sekali. Hehehe.

Ah ya, kekuatan buku ini selain dari narasi Percy yang selalu sukses bikin ngakak, juga ada pada ilustrasi buatan John Rocco di dalamnya. Ilustrasi berwarnanya membantuku mengimajinasikan sosok-sosok dalam mitologi Yunani. Misalnya saja Hera yang dikisahkan memiliki wajah ningrat dan kecantikan yang tak terjamah (hal. 118). Atau sosok Ares yang diibaratkan sebagai sosok yang layak disembah para penggertak, bandit, dan preman di seluruh dunia (hal. 269). Bisa dibilang, ilustrasi buatan John Rocco benar-benar menginterpretasikan sosok-sosok yang diceritakan Percy di buku ini.

Hera

Ares

Saat menamatkan buku ini, jujur aku merasa puas sekali. Buku ini sangat menghibur dan membuatku yang sedang dalam mood malas membaca, jadi semangat membaca lagi. Meski ada kisah yang bertemakan penipuan, pencurian, pengkhianatan, dan bahkan kanibalisme, tapi sesungguhnya tak semenyeramkan itu. Mungkin karena Percy menceritakannya secara menarik disertai humor-humor yang cerdas, jadi tak semenakutkan yang terlihat. Malah terkesan lucu dan membuatku tak sabar untuk melanjutkan membaca sampai tuntas.

Nah, buat kalian yang ingin mengenal dewa-dewi di mitologi Yunani, aku merekomendasikan banget buku ini. Selamat membaca! :D