May 10, 2018

Pengin Jajan Buku Tapi Mager? Mizanstore Saja!

0

Zaman memang sudah berubah. Kalau dulu pengin beli buku harus ke toko buku, sekarang cuma dengan gegoleran di kasur, kita sudah bisa beli buku. Nggak percaya? Yuk, simak ulasanku tentang toko buku online Mizanstore favoritku ini.

Source: here

Mungkin kalian sudah familier dengan Penerbit Mizan sebagai salah satu penerbit di Indonesia. Tapi, Mizanstore? Yep, sesuai namanya, Mizanstore masih termasuk dalam lini Mizan Grup yang khusus menjual buku secara online. Bukan cuma buku-buku terbitan Mizan saja yang dijual, tapi juga buku-buku dari penerbit lain yang bekerja sama dengan pihak Mizanstore.

Sebagai manusia mager yang jarang keluar rumah, belanja buku secara online menjadi salah satu cara bagiku untuk membaca buku baru. Apalagi rumahku berada jauh dari perkotaan yang minim tempat untuk membeli buku. Sampai sekarang aku masih berharap di tempatku ada toko buku. Tapi, karena belum kesampaian juga, aku benar-benar mengandalkan toko buku online. Selain praktis, belanja di toko buku online juga lebih menghemat pengeluaran, karena tak jarang ada diskon yang tidak diterapkan di toko buku offline.

Memang, cukup banyak pilihan toko buku online yang menawarkan kemudahan bagi para pembeli. Namun, dari semua toko buku online yang tersedia, pilihanku pun jatuh pada... Mizanstore!

Kenapa aku memilih Mizanstore? Tentu ada alasannya. Yang terutama, aku puas dengan pelayanan Mizanstore kira-kira setahun lalu saat aku membeli buku dari pengarang favoritku Brandon Sanderson, yaitu buku Elantris: The Curse of Holy City. Saat itu, lumayan susah mencari buku ini, karena stoknya sering kosong. Karena aku sudah kadung kepincut dengan Elantris gara-gara baca review-nya, akhirnya kuputuskan untuk membelinya di Mizanstore. Syukurlah, stoknya tersedia. Pas kulihat harganya, wow... rupanya sedang diskon gede-gedean. Bayangkan, cukup bayar 35 ribu rupiah saja untuk buku sekeren Elantris! Akhirnya, tanpa perlu mikir lama, aku pun segera mengorder buku ini.

dok. pribadi

Sama sekali nggak ada kesusahan yang berarti saat mengorder buku di Mizanstore. Tahap-tahapnya mudah dan gampang dimengerti. Untuk info lengkap mengenai caranya, bisa banget langsung baca di bagian Cara Belanja yang ada di website Mizanstore. Sudah baca? Nah, percaya kan sama sekali nggak susah buat belanja di Mizanstore?

Setelah melakukan proses checkout, aku memilih metode pembayaran melalui gerai Indomaret. Nah, ini yang benar-benar memudahkanku. Kebetulan ATM di tempatku lumayan jauh. Sementara kalau Indomaret dekat banget dari rumah, cuma tinggal jalan kaki juga sampai. Istilahnya sih tinggal ngesot juga bisa beli barang di Indomaret, hahaha. Meski mager sekali pun, asal ada Indomaret, bakal kujabanin lah. Bisa dibilang, Indomaret memudahkan proses belanjaku di Mizanstore.

Setelah membayar orderanku di Indomaret, kutunggulah buku pesananku sampai di rumah. Tiga hari kemudian, bukuku pun sampai dengan selamat. Tak ada kerusakan pada buku pesananku. Packing-nya pun termasuk rapi. Pokoknya... aku puas banget deh belanja di toko buku online Mizanstore.

Buat kalian yang sama-sama spesies manusia mager kayak aku, aku benar-benar merekomendasikan buat beli buku di Mizanstore. Selain ada diskon yang diberikan, semua buku yang dijual di sana DIJAMIN ORIGINAL. Ini penting banget lho, karena sekarang banyak sekali toko buku online yang menjual buku bajakan. Meski harganya murah, kusarankan jangan pernah membeli buku bajakan, karena itu sama sekali nggak menghargai penulis dan penerbitnya. Lebih baik membeli buku di tempat yang memang menjual buku original seperti Mizanstore yang koleksi bukunya lengkap, harganya murah, dan tentunya terpercaya.

So... tunggu apalagi? Yuk, mulai belanja buku di Mizanstore!

May 4, 2018

Revan & Reina

1


REVIEW REVAN & REINA

Judul: Revan & Reina
Penulis: Christa Bella
Penerbit: Ikon
Cetakan: II, Agustus 2016
Tebal: 302 halaman
ISBN: 978-602-74653-0-5

Blurb:

Pandangan Reina dan Revan beradu. Dan, hal pertama yang mampu gadis itu lakukan adalah memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Sementara ia menyusun kata demi kata untuk mengurai penjelasan, justru Revanlah yang pertama kali membuka mulut. Memecah keheningan yang janggal. Meski begitu, ekspresi Revan terlihat muram.

"Gue ngerti kok, Na. Tanpa lo jelasin pun, gue bisa mengerti," Revan melempar pandangannya ke arah lain. "Karena itu satu-satunya hal yang mesti gue lakukan ketika dia kembali."

Reina masih terdiam. Perasaannya teraduk-aduk.

Sebab Revan percaya, hati yang terluka hanya perlu waktu untuk sembuh.
Namun, bukankah rasa kerap berjalan beriringan dengan anomali?
Kini, kebahagiaan pun masih bertumpu pada ketidakpastian.

Review:

Cinta memang tak memandang usia. Ketika dua hati telah terpaut, maka usia tak lagi menjadi masalah. Yang terpenting adalah perasaan, juga kenyamanan yang dirasakan kedua belah pihak. Apabila pasangan kekasih telah merasakan hal tersebut, maka harapan hubungan bisa langgeng pun bukannya mustahil untuk diwujudkan.

Hal ini terbukti dalam novel Revan & Reina karya Christa Bella. Revan yang notabene masih murid SMA berpacaran dengan Reina yang berstatus mahasiswi. Meski Reina lebih tua, tapi tak membuat Revan malu mengakui hubungannya.

Hubungan Revan dan Reina mulai dilanda masalah saat sosok laki-laki di masa lalu Reina yang bernama Fabian muncul. Ketika SMA, Reina pernah menyukai Fabian. Fabian pun menaruh perhatian pada Reina. Tak ayal, hal itu melambungkan harapan Reina, membuatnya ingin menjadi pacar Fabian.

Sayangnya, tiba-tiba saja Fabian menghilang dan tak pernah menghubungi Reina. Saat dilanda kegalauan itulah, Revan selalu ada di samping Reina. Hal itu membuat Reina lambat laun sanggup melupakan dukanya atas kepergian Fabian.

Kemunculan kembali Fabian tentu membuat Reina gundah. Dia mencoba menjaga jarak dengan pemuda itu, karena masih sakit hati dengan perbuatannya di masa lalu. Fabian sendiri seolah tak peduli. Dia terus berusaha mendekati Reina. Untunglah Reina bersikeras tak ingin berhubungan lagi dengan Fabian. Dia tak mau mengulangi apa yang dulu pernah dia lakukan.

"I decided to stop chasing people since a long time ago. Karena aku tau, orang yang worth it untuk dipertahankan, toh juga akan bertahan untuk aku. Dan, yang sanggup itu cuma Revan seorang." (hal. 203)

Selain Fabian, ada pula sosok gadis bernama Diandra. Diandra adalah adik kelas Revan, sekaligus adik tiri Fabian. Kebaikan Revan membuat Diandra salah paham. Sementara Revan bersikukuh dia cuma bersikap baik padanya. Reina pun memberi tahu Revan sudut pandang lain mengenai hal tersebut.

"Kalo dilihat dari perspektif dia, wajar saja dia sempet merasa head over heals karena diperhatiin sama lo. Dan, kalo gue ada di posisi dia, gue pikir mungkin juga akan merasa seperti itu. Apalagi bukan sekali dua kali aja lo terkesan kayak lagi approach dia. Masalahnya justru adalah dia jadi salah sangka karena lo salah langkah." (hal. 253)

Kejutan disiapkan penulis lewat alasan kenapa Fabian sempat menghilang dari kehidupan Reina. Alasannya memang klasik, tapi cukup memperlihatkan ketidaksiapan Fabian dalam menanggapi perasaan Reina. Bukan hal yang patut dicontoh tentu saja, karena sikap Fabian tersebut hanya menyakiti hati Reina.

Untuk ukuran sepasang kekasih, interaksi Revan dan Reina dalam novel ini tergolong berbeda dan unik. Omongan mereka cenderung blak-blakan layaknya sahabat karib. Hal ini bukan tanpa alasan. Keakraban mereka terjalin sejak kecil, karena mereka bertetangga. Melihat fakta tersebut, pantas rasanya Revan dan Reina merasa nyaman satu sama lain. Kebersamaan mereka sejak kecil yang menjadi kunci utamanya.

Selain kisah cinta Revan dan Reina, yang menarik dalam novel ini adalah sisi humornya. Tak jarang celetukan para tokohnya mengundang tawa. Interaksi via grup chat pun tak kalah lucu. Apalagi Revan punya kebiasaan salah ketik dan salah omong. Hal ini tentu menjadi daya tarik novel ini dan membuatnya tak membosankan untuk dibaca hingga tamat.

Tren novel yang diangkat ke layar lebar bukanlah hal yang baru. Melihat antusiasme pembaca novel Revan & Reina, visualisasi kisahnya dalam layar lebar yang akan tayang pada tahun 2018 patut dinantikan. Kekonyolan dan keromantisan pasangan beda usia ini akan membuat siapa pun memahami bahwa cinta sejati jangan pernah disia-siakan, tapi sepantasnya dipertahankan dan juga diperjuangkan.

Rate: 3/5 bintang

Mar 3, 2018

Alcatraz Vs. The Evil Librarians #3 - The Knights of Crystallia

0


REVIEW ALCATRAZ VS. THE EVIL LIBRARIANS #3 - THE KNIGHTS OF CRYSTALLIA

Judul: Alcatraz Vs. The Evil Librarians #3 - The Knights of Crystallia
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, November 2017
Tebal:  295 halaman
ISBN: 978-602-6699-01-5

Blurb:

Akhirnya Alcatraz dan Kakek Smedry tiba di Nalhalla di Kerajaan Merdeka dengan selamat. Meskipun berhasil tiba di rumah Keluarga Smedry, bukan berarti Alcatraz bisa bersantai-santai. Perang masih berkecamuk dan pasukan Pustakawan Durjana berada di atas angin, apalagi mereka berhasil menyusupkan mata-mata di antara para Kesatria Crystallia. Alcatraz dan kawan-kawan harus berusaha menemukan sang pengkhianat, nyawa para raja dan ratu Kerajaan Merdeka menjadi taruhannya.

Review:

Alcatraz sama sekali tak menduga kedatangannya di Nalhalla akan disambut dengan begitu meriah. Rupanya kesohoran keluarga Smedry tak dapat diremehkan. Di sana, Alcatraz dipandang sebagai selebriti. Bahkan, dia punya buku petualangan dengan foto dirinya pada sampul buku. Meski awalnya kaget, tapi lambat laun Alcatraz menikmati ketenarannya sebagai anggota keluarga Smedry.

Perhatian yang diberikan orang-orang pada dirinya membuat Alcatraz lupa terhadap sidang yang dijalani Bastille. Setelah persidangan yang alot, Bastille diputuskan bersalah karena menghancurkan pedang Crystallia. Dia pun dihukum dengan dicabutnya Batu Daging dari lehernya.

Sementara itu, kedatangan Pustakawan ke Negeri Merdeka membawa misi yang cukup serius. Mereka ingin membuat perjanjian damai dengan syarat Negeri Merdeka harus menyerahkan Kerajaan Mokia. Hal ini tentu tak dapat dibiarkan. Terlebih Alcatraz melihat ibunya yang merupakan anggota Pustakawan menuju Gedung Arsip Kerajaan. Alcatraz pun dikejar waktu. Dia harus menguak rencana ibunya, sekaligus menggagalkan sidang perjanjian damai Negeri Merdeka dengan para Pustakawan.

***

Perjalanan Alcatraz menuju kampung halamannya Nalhalla tak berjalan mulus. Sama seperti di buku kedua di mana dia mendapati Dragonout meledak, kali ini Hawkwind, kendaraan yang ditumpangi Alcatraz lah yang meledak. Meski masih menjadi misteri penyebab ledakan itu, Alcatraz akhirnya tiba juga di Nalhalla. Di sana dia dibuat takjub dengan kastel-kastel yang berdiri megah dan berjejer seperti cerita dalam negeri dongeng yang pernah dibacanya.

Belum cukup takjub dengan kemegahan Nalhalla, Alcatraz dibuat terkesan dengan reputasi Smedry. Rupanya, keluarga Smedry masih berada dalam lingkup kerajaan dan termasuk golongan bangsawan. Inilah yang membuat nama keluarga Smedry tersohor. Kehadiran Alcatraz pun disambut meriah dan orang-orang mengerubunginya bak selebriti. Ketenaran ini membuat Alcatraz bangga. Dia akan mencibir siapa pun yang mengatainya lupa diri dengan kepopulerannya sekarang.

Ada yang mengatakan bahwa ketenaran itu dangkal. Mudah saja mengatakannya ketika kau tidak melewatkan masa kecilmu dengan berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain, dicemooh dan disingkirkan karena kutukan yang membuatmu merusak apa pun yang kau sentuh. (hal. 74)

Pertemuan Alcatraz dengan Folsom dan Himalaya mengantarnya pada satu kenyataan baru. Ternyata ada pula Pustakawan yang membelot dari Negeri Sunyi dan memilih tinggal di Negeri Merdeka. Himalaya lah Pustakawan tersebut. Selama di Nalhalla, dia terus didampingi Folsom. Alcatraz sama sekali tak percaya Himalaya. Dia beranggapan bisa saja gadis itu mata-mata para Pustakawan.

Kemunculan ibu Alcatraz dan Pustakawan Kerangka Juru Tulis di Ruang Arsip Kerajaan membuat Alcatraz, Bastille, Pangeran Rikers, Folsom, dan Himalaya terjebak. Semua orang tahu kehebatan Alcatraz lewat Bakatnya yang kerap merusak. Sayangnya, Alcatraz seperti mati kutu setelah Bakatnya hilang akibat dipasangi cincin dari Kaca Penghambat. Dia pun sadar tak bisa memenuhi harapan orang lain lewat Bakatnya tersebut.

Aku terjerumus ke dalam semua ini karena mengira Bakatku bisa mengeluarkan kami. Nah, sekarang ternyata tidak bisa. Aku membawa kami ke dalam bahaya karena aku membiarkan kepercayaan diriku membuatku terlalu percaya diri. (hal. 242)

Anggapan Alcatraz kalau Himalaya seorang mata-mata Pustakawan ternyata salah besar. Sang mata-mata ternyata orang dalam yang membuat Hawkwind meledak, menjebak Bastille agar dipromosikan terlalu cepat, dan berkonspirasi mengontrol kekuatan Kesatria Crystallia lewat Batu Benak. Pertempuran pun tak terelakkan. Kehebatan Bastille dalam bertarung diakui di sini, meskipun Batu Daging yang memberi kekuatan bagi kesatria Crystallia dicabut dari lehernya.

Tak seperti dua buku sebelumnya, kali ini Alcatraz tak sepenuhnya berhasil menyelesaikan masalah. Belum lagi ayahnya, Attica Smedry mengumumkan penyelidikannya yang kontroversial mengenai Bakat Smedry yang dapat diwariskan. Raja tak menyukai gagasan tersebut. Alcatraz pun tak suka saat membayangkan ada orang biasa yang punya Bakat seperti dirinya.

Karena Bakat-lah yang menjadikan kami istimewa, bukan? (hal. 285)

Masih banyak teka-teki yang belum dipecahkan pada novel ini. Mulai dari penjelasan mekanisme Bakat yang dapat diwariskan, kisah masa lalu orang tua Alcatraz, sampai motivasi ibu Alcatraz yang membingungkan. Semua teka-teki ini layak dinantikan. Karena kejutan yang tak terduga pasti akan ditemui di dua buku selanjutnya.  

Rate: 5/5 bintang

Feb 17, 2018

The Midnight Star

1


REVIEW THE MIDNIGHT STAR

Judul: The Midnight Star
Penulis: Marie Lu
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Oktober 2017
Tebal:  384 halaman
ISBN: 978-602-385-185-0

Blurb:

Adelina pikir, tiada lagi penderitaan. Dia telah membalas dendam pada mereka yang mengkhianatinya. Sang Serigala putih memenangi takhta Kenettra, tapi seiring bertambahnya kekuasaan, dia menjadi semakin kejam. Kegelapan dalam dirinya semakin tak terkendali, ingin menghancurkan semua yang ada di dekat Adelina.

Kemudian ancaman baru muncul, dan Adelina beserta para Mawar mau tak mau harus bekerja sama dengan para Belati untuk menghadapinya. Namun, aliansi mereka yang sarat kecurigaan dan pengkhianatan mungkin lebih berbahaya dari apa pun. Bagaimanakah nasib para Elite selanjutnya?

Review:

Setelah menjadi Ratu Kenettra, keinginan Adelina untuk menaklukkan daerah-daerah lain semakin besar. Dengan kekuasaan dan kekuatannya, mudah baginya untuk memerintah dan memberi penawaran agar orang-orang mau jadi pengikutnya. 

Sementara itu, akibat tindakan Maeve yang menghidupkan Tristan dan Enzo, hawa pekat dari alam kematian mulai meracuni dunia. Raffaele yang menyadari hal itu, berusaha mencari solusi. Dan, solusi yang ditemukannya harus mempertemukan pihak-pihak yang bersiteru sebelumnya: para Mawar dan para Belati.

Tak mudah untuk menyatukan visi demi menyelamatkan dunia dari alam kematian. Terlebih dengan pikiran negatif yang terus merongrong kepala Adelina. Ketika pada akhirnya para Elite yang terhubung dengan kedua belas dewa memulai perjalanan menuju tempat asal Elite, Adelina harus mendapati kenyataan Violetta tak kuat menahan kekuatan Elite-nya. Violetta pun meninggal, membuat Adelina dirundung penyesalan, karena sempat bersitegang dengan adiknya tersebut.

Adelina, Magiano, Raffaele, Maeve, Lucent, dan Teren akhirnya sampai di tempat para dewa. Di sini lah keputusan para Elite untuk menyerahkan kekuatannya diuji. Adelina dilanda kebimbangan yang berat. Akhirnya, dia pun mengambil keputusan terakhir—pengorbanan sang kakak demi adiknya yang telah tiada.

***

Sebagai ratu baru Kenettra, Adelina memerintah dengan kejam dan tanpa kenal ampun. Apabila dia melihat orang yang menentangnya, Adelina tak segan memberinya hukuman. Adelina belajar dari masa lalu tak ada gunanya berbelas kasihan pada orang lain. Agar rakyatnya patuh, maka dia harus menunjukkan kekuatannya secara penuh.

Kalau aku bisa mempelajari sesuatu dari masa lalu dan masa kiniku, itu adalah kekuatan yang ditimbulkan oleh rasa takut. Kau bisa memberi rakyatmu seluruh kemurahan hati yang tersebar di dunia, tapi mereka pasti akan meminta lebih. Namun, mereka yang ketakutan tidak akan melawan. Aku benar-benar sudah memahaminya. (hal. 29-30)

Keberadaan Tristan dan Enzo yang menyalahi takdir, menjadi awal mula rusaknya tatanan kehidupan di dunia manusia. Hawa pekat dari alam kematian mulai membanjiri dunia manusia. Kekuatan para Elite pun menjadi bumerang, karena mengancam keselamatan mereka.

Saat itulah, Raffaele menyadari bahwa cuma para Elite yang bisa membuat keadaan kembali normal. Caranya yaitu dengan pergi ke tempat Elite pertama muncul dan menyeberang ke dunia dewa. Sayangnya, susah bagi Adelina untuk memercayai Raffaele. Terlebih saat dia tahu selama ini Violetta berlindung pada Raffaele.

Jadi mengapa aku harus membantu seorang pembohong dan pengkhianat? Setelah semua yang telah diperbuat para Belati padaku, apakah Raffaele benar-benar berpikir bahwa aku akan berjuang demi hidup mereka hanya karena dia memanfaatkan adikku untuk melawanku? Aku Serigala Putih, Ratu Sealand—tetapi bagi Raffaele, aku hanya orang yang menjadi berguna lagi, dan itu membuat dirinya tertarik padaku sekali lagi. (hal. 164-165)

Kematian kembali Enzo membuat Adelina berubah pikiran. Racun dari alam kematian benar-benar merusak. Dia pun menerima tawaran Raffaele untuk pergi ke tempat di mana para Elite bermula.

Kini, para Elite bersatu padu demi tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan dunia. Teren yang awalnya adalah musuh Adelina pun masuk ke dalam tim, karena kekuatannya berkaitan erat dengan Malaikat Perang. Sayangnya, keadaan Violetta yang makin memburuk tak bisa diselamatkan. Meski demikian, para Elite tetap bisa memasuki dunia para dewa, karena sejatinya jiwa Violetta telah lebih dulu berada di sana.

Pertemuan Adelina dan Moritas, sang Dewi Kematian membuahkan kesepakatan. Untuk mengakhiri wabah berdarah, maka Adelina harus menyerahkan kekuatannya. Adelina menyanggupi permintaan Moritas tersebut. Namun, saat hendak kembali ke dunia manusia dan melihat jiwa Violetta, Adelina berubah pikiran. Dia ingin adiknya hidup. Itu artinya, Adelina harus rela menukar jiwanya.

Tentu mengejutkan melihat pilihan yang diambil Adelina. Di satu sisi, ada Magiano yang menunggunya. Dia punya masa depan bersama pemuda itu. Namun, di sisi lain ada rasa bersalah yang besar, karena Adelina merasa dirinya lah penyebab adiknya meninggal. Sekilas, pengorbanan Adelina untuk adiknya tampak mulia dan heroik. Namun, motivasinya tak sesederhana itu. Ada unsur egoisme di sana. Lebih tepatnya, egoisme yang berbalut dengan kebaikan.

Aku menggeleng. Tidak, aku kemari demi diriku sendiri. Itu tujuanku sedari awal, untuk menyelamatkan diriku sendiri dengan kedok menyelamatkan dunia. (hal. 358)

Selain plotnya yang tak tertebak, sangat menarik memerhatikan perkembangan karakter dalam trilogi The Young Elites. Terlihat jelas Marie Lu berusaha menyuguhkan karakter yang bersifat dualisme, di mana kebaikan dan keburukan yang sejatinya bertentangan dimiliki oleh seorang tokoh.

Ambil contoh Teren yang sejak awal dikisahkan begitu kejam pada para malfetto. Meski kejam, tapi pada dasarnya Teren adalah sosok religius yang merasa punya keterikatan kuat dengan para dewa. Lain halnya dengan Magiano. Dia pembawa kebahagiaan, tapi di satu sisi dia pun serakah. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan tokoh-tokoh ini tak bisa sepenuhnya dibenci atau disukai.

Lewat penggambaran karakter tersebut, dapat disimpulkan tak ada manusia yang suci dan tanpa dosa. Karena itulah, jangan merasa kecil hati dan terus melihat keburukan pada diri sendiri. Sejatinya, kebaikan itu pun ada, hanya saja kita mesti pandai melihatnya. Sama seperti Magiano yang bisa melihat jauh ke dalam diri Adelina.

"Kau adalah seribu hal, mi Adelinetta, bukan hanya satu. Jangan membatasi dirimu pada satu hal saja." (hal. 256)

Buku pamungkas Trilogi The Young Elites ini menjawab segala permasalahan yang disuguhkan sedari awal. Dengan ending yang mengharu biru dan berbalut cerita rakyat, pembaca diajak ikut bersimpati atas pengorbanan Adelina. Adelina memang bukan karakter yang loveable. Tapi, hal itu pula yang membuat Trilogi The Young Elites ini begitu menarik dan menjadi salah satu seri yang layak dikoleksi bagi para penggemar novel fantasi.

Rate: 5/5 bintang

Jan 22, 2018

Dark Matter

0


REVIEW DARK MATTER

Judul: Dark Matter
Penulis: Blake Crouch
Penerbit: Nourabooks
Cetakan: I, April 2017
Tebal: 476 halaman
ISBN: 978-602-385-185-0

Blurb:

Apa kau bahagia dengan hidupmu? Pernahkah kau bertanya-tanya bagaimana jika seandainya kau mengambil pilihan yang berbeda?

Suatu malam—tanpa firasat apa pun—Jason Dessen diculik dan sesuatu disuntikkan ke tubuhnya. Dia mendapati dirinya terbangun di dunia yang berbeda. Di sana istrinya bukanlah istrinya dan anaknya tak pernah terlahir sama sekali. Di sana dia bukanlah dosen fisika biasa, melainkan genius terkenal yang telah melakukan hal-hal istimewa. Di sana segalanya tampak sama, sekaligus berbeda. Ke mana kehidupannya yang lama? Bagaimana caranya agar dia bisa kembali?

Hanya itulah yang Jason inginkan: kembali ke keluarga yang dicintainya, tempat dia merasa bahagia. Namun, perjalanan menuju ke sana demikian berliku dan menakutkan, melebihi imajinasi terliarnya sekalipun.

Review:

Meski karirnya tak begitu memuaskan, Jason Dassen memiliki keluarga yang sempurna. Istrinya Daniela dan anaknya Charlie merupakan hal terbaik yang pernah dia miliki. Namun, setelah tragedi penculikan yang dialaminya, Jason terlempar ke dunia asing. Saat terbangun, dia dikelilingi orang-orang yang tak dia kenal. Yang lebih parah, mereka seolah menunggu penjelasan Jason akan sesuatu yang tak dia pahami.

Jason yang bingung, berusaha melarikan diri. Betapa kagetnya dia saat mencoba menghubungi Daniela, nomornya tersambung ke orang yang berbeda. Dia pun mendapati kenyataan kalau dirinya bahkan tak punya anak dan istri. Jason makin tak mengerti. Dia merasa ada sosok tak kasat mata yang merenggut kehidupannya dan melemparnya ke dunia yang salah.

Sementara itu, Leighton yang terus menuntut penjelasan dari Jason, akhirnya menguak siapa Jason yang sebenarnya. Rupanya Jason adalah seorang jenius terkenal yang melakukan penelitian tentang Interpretasi Banyak-Dunia atau biasa disebut dengan dunia paralel.

Interpretasi Banyak-Dunia sangat mungkin terjadi dalam cabang ilmu mekanika kuantum. Hanya saja hal ini sangat mustahil untuk diobservasi dan diwujudkan. Namun, karena kejeniusan Jason, dia berhasil melakukan percobaan tersebut. Terbukti dengan kembalinya Jason setelah dia mencoba alat buatannya. Juga kenyataan bahwa dirinya dalam versi lain lah yang membuatnya berada di tempat ini.

Petualangan Jason untuk mencari dunia di mana keluarganya berada pun dimulai. Bersama Amanda, Jason pergi dari satu dunia ke dunia lain. Ternyata tak semudah itu menemukan dunianya yang lama. Saat menemukannya, Jason harus mendapati kenyataan dia harus melawan Jason-Jason dari dunia lain demi bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.

***

Buku dengan tema dunia paralel selalu menarik untuk dibaca. Pada dasarnya, susah membuktikan keberadaan dunia semacam ini. Namun, dalam kisah Dark Matter, menjelajah dunia paralel sangat mungkin dilakukan. Novel berbalut sains ini menjabarkan bagaimana itu bisa terjadi melalui percobaan yang dilakukan Jason Dassen.

Di dunianya, Jason cuma seorang dosen. Sebelum menikah, Jason tengah melakukan penelitian tentang dunia paralel. Namun, pertemuannya dengan Daniela mengubah segalanya. Dia pun berhenti melakukan penelitian itu dan menikahi Daniela. Siapa sangka dari pilihan tersebut, terbangunlah dunia di mana Jason sukses dengan penelitiannya sampai bisa menjelajah dunia paralel. Pilihan yang tak diambil di masa lalu Jason lah yang menjadi pencetusnya.

Menakutkan ketika kau memikirkan bahwa setiap hal yang kita pikirkan, semua pilihan yang bisa kita buat, akan bercabang ke dunia yang baru. Setelah pertandingan bisbol hari ini, kita pergi ke Navy Pier, lalu makan malam, kan? Tapi itu hanyalah satu versi dari apa yang terjadi. Dalam realitas berbeda, alih-alih ke dermaga, kita pergi menonton simfoni. Di realitas lainnya, kita tinggal di rumah. Dalam dunia lain, kita mengalami kecelakaan fatal di Lokeshore Drive dan tidak berhasil bertahan hidup. (hal. 154)

Penculikan yang dialami Jason membuatnya terlempar ke dunia asing. Lucunya, yang menculiknya adalah dirinya sendiri dalam versi dunia lain. Kehidupan Jason lain ini tak begitu menyenangkan, jadi dia ingin menggantikan keberadaan Jason di dunianya yang bahagia bersama keluarganya.

Kebingungan Jason di dunia asing membuatnya mencari Daniela. Rupanya Daniela telah sukses menjadi seniman terkenal, berbanding terbalik dengan istrinya. Daniela juga mengaku telah berpisah dengan Jason. Semua kenyataan ini makin tak masuk akal. Akhirnya, Jason menceritakan apa yang terjadi pada Daniela. Jason pun mulai menelaah segalanya dan tak memungkiri tentang keberadaan dunia lain setelah apa yang dia alami. 

Kita semua hidup hari demi hari tanpa benar-benar mengetahui fakta kalau kita adalah bagian dari realitas yang lebih besar dan lebih aneh daripada semua yang kita bayangkan. (hal. 133)

Butuh perjuangan yang berat bagi Jason untuk bertemu keluarganya lagi. Dunia-dunia yang dia temui nyaris merenggut nyawanya dan Amanda. Akhirnya, setelah berpisah dengan Amanda, Jason dapat menemukan dunia lamanya. Hanya saja, sudah ada Jason lain yang menempati posisinya.

Di sinilah pertarungan Jason dimulai. Lawan Jason bukan orang lain, tapi dirinya sendiri yang jumlahnya nyaris ribuan. Jason-Jason ini sama-sama ingin menempati posisi kehidupan Jason. Meski tampak absurd, tapi penggambaran adegannya begitu nyata. Jason pun harus memeras akal untuk mengelabui Jason-Jason lain agar tak ada yang bisa memprediksi tindakannya.

Penulis mengakhiri novel ini dengan dramatis di mana putra Jason yang menentukan dunia yang akan mereka diami selanjutnya. Jason berpikir tak penting dunia apa yang dia tinggali. Yang terpenting adalah dia bersama keluarganya lagi.

Novel ini mengajari banyak hal. Kadang kala kita jarang menghargai apa yang kita miliki. Namun, dari apa yang dialami Jason, tak ada yang lebih dirindukan selain hidup dan realitas yang kita jalani sehari-hari. Karena itu, sepantasnya kita hidup dengan mengambil risiko dan tak menyesali semua yang terjadi. Bagaimana pun, berandai-andai atas pilihan yang tak diambil tak selalu berakhir memuaskan, karena kita tak pernah tahu ada orang-orang yang ingin berada di posisi kita.

Rate: 4/5 bintang

Dec 31, 2017

Alcatraz Vs. The Evil Librarians #2 - The Scrivener's Bones

0


REVIEW ALCATRAZ VS. THE EVIL LIBRARIANS #2 - THE SCRIVENER'S BONES

Judul: Alcatraz Vs. The Evil Librarians #2 - The Scrivener's Bones
Penulis: Brandon Sanderson
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Juli 2017
Tebal: 397 halaman
ISBN: 978-602-610-999-6

Blurb:

Perpustakaan Alexandria yang tersohor, tempat segala jenis pengetahuan tersimpan, sebenarnya masih berdiri hingga saat ini! Jika kau kira perpustakaan itu sudah dihancurkan, maka kau termakan kebohongan para Pustakawan Durjana.

Dalam perjalanan ke Kerajaan Merdeka, Alcatraz tiba-tiba memutuskan untuk belok arah ke Perpustakaan Alexandria, karena Kakek Smedry pergi ke sana, dan Alcatraz tahu kakeknya itu pasti akan terlibat masalah dan mungkin akan membutuhkan bantuannya. Tapi tugas ini tidak mudah, karena Perpustakaan Alexandria dijaga oleh para Kurator, roh-roh yang menyerupai tengkorak dan akan merenggut jiwamu jika kau berani-berani memindahkan satu buku saja dari perpustakaan itu. Selain itu, Alcatraz juga dikejar-kejar oleh salah satu Pustakawan Kerangka Juru Tulis yang hendak mengorbankannya di altar berdarah.

Review:

Saat menunggu Kakek Smedry di bandara, Alcatraz dikejar oleh Para Pustakawan. Para Pustakawan itu berusaha menembak dirinya. Untunglah Alcatraz berhasil melarikan diri. Dia dijemput Bastille menggunakan Dragonaut. Bentuk Dragonaut sangat fantastis. Kendaraan tersebut terbuat dari kaca dan bentuknya menyerupai naga yang bisa mengepakkan sayapnya bak makhluk hidup.

Selain Bastille, di dalam Dragonaut sudah menanti Draulin, ibu Bastille; Australia, sepupu Alcatraz; dan Kazan, paman Alcatraz. Rupanya Kakek Smedry punya urusan lain sehingga tak bisa menjemput Alcatraz. Lewat perbincangan saat menggunakan Lensa Kurir, Alcatraz tahu kakeknya itu telah menemukan keberadaan ayah Alcatraz di Perpustakaan Alexandria.

Sejak dulu Alcatraz penasaran dengan sosok ayahnya. Dia pun berusaha menyusul Kakek Smedry. Namun, mendadak saja Dragonaut diserang oleh Pustakawan Kerangka Juru Tulis. Ketika terjadi pertempuran, sayangnya Dragonaut tak dapat diselamatkan. Kendaraan itu pun jatuh di sebuah hutan. Untunglah tak ada yang celaka gara-gara peristiwa tersebut.

Lewat bakat Kaz yang kerap tersesat, Alcatraz, Australia, Draulin, dan Bastille akhirnya menemukan Perpustakaan Alexandria. Alcatraz menyangka perpustakaan tersebut berdiri megah, seperti yang disangkanya selama ini. Tak tahunya, Perpustakaan Alexandria hanya berupa gubuk mungil dengan satu kamar. Buyar sudah bayangan Alcatraz mengenai perpustakaan yang tersohor tersebut.

Di dalam Perpustakaan Alexandria, Alcatraz terpisah dengan yang lain. Dimulailah petualangan Alcatraz yang menakjubkan dengan melibatkan roh-roh para Kurator, aturan-aturan yang melibatkan buku-buku di perpustakaan, dan penemuannya akan keturunan Smedry.

***

Alcatraz kembali menyajikan kisah konyol dan penuh humor dalam buku kedua Alcatraz Vs. The Evil Librarians. Seperti halnya di buku pertama, Alcatraz menyuguhkan kalimat pembuka yang tergolong tak lazim. Memang cukup membingungkan, tapi sekaligus membuat pembaca penasaran apa yang ingin Alcatraz sampaikan dalam narasinya itu.

Kemunculan anggota keluarga Alcatraz yang lain membuat buku ini semakin menarik. Seperti yang diketahui, bakat keluarga Smedry tergolong aneh. Misalnya saja bakat sepupu Alcatraz yang bernama Australia. Australia punya bakat bisa bangun pagi dengan tampang jelek. Sementara paman Alcatraz, Kaz punya bakat selalu tersesat. Meski terlihat tak masuk akal, tapi bakat-bakat tersebut berhubungan dengan petualangan Alcatraz di perpustakaan Alexandria. Jadi, bukan tanpa alasan kenapa penulis memilih bakat-bakat tersebut.

Sebagai anggota keluarga Smedry, Alcatraz mendapat pengawalan penuh dari Draulin dan Bastille. Australia dan Kaz juga menganggapnya pemimpin. Hal ini membuat Alcatraz bimbang. Dia tak mau berada di posisi di mana semua orang tergantung pada keputusannya. Karena bagaimana pun menjadi pemimpin berarti harus tahu konsekuensi atas pilihan yang diambil. Dan Alcatraz belum siap dengan hal itu.

Itulah masalahnya dengan menjadi pemimpin. Semuanya tentang pilihan--dan pilihan itu tak pernah terasa menyenangkan. (hal. 132)

Walau demikian, keinginan menjadi pahlawan atau pemimpin selalu terbersit di benak Alcatraz. Melihat masa kecil dan bakatnya yang kerap merusak, tentu membuat Alcatraz berharap ada masa di mana dia berada di pihak yang 'membetulkan' dan bukannya 'merusak'. Bastille yang paham akan hal itu membesarkan hati Alcatraz.

"Menurutku kau tidak payah dalam tugasmu, Alcatraz," katanya. "Memegang tanggung jawab itu berat. Jika segalanya berjalan dengan baik, tak ada yang menaruh perhatian. Kalau ada yang salah saja, kaulah yang selalu dipersalahkan. Menurutku kau lumayan. Kau hanya perlu sedikit percaya diri." (hal. 237-238)

Keberhasilan Alcatraz melawan Pustakawan Kerangka Juru Tulis yang membuntutinya tak terlepas dari kecerdasan Alcatraz melihat kesempatan dan memanfaatkan aturan-aturan mengikat yang dikemukakan para Kurator. Pun ketika Alcatraz berhasil membuat ayahnya 'hidup' kembali. Sayangnya, Alcatraz harus menelan kekecewaan akan sang ayah. Walau demikian, sesungguhnya misi telah tercapai. Jadi, sudah sepatutnya Alcatraz senang akan hal itu.

Kami berjalan, langkahku mulai semakin ringan. Kaz benar. Memang, segalanya tidak sempurna, tetapi kami berhasil menyelamatkan ayahku. Pergi ke Perpustakaan terbukti pilihan yang sangat baik, pada akhirnya. (hal. 299)

Novel ini diakhiri dengan epilog yang membuat pembaca bertanya-tanya. Perubahan seperti apa yang dialami Alcatraz? Dan kenapa pula dia menyebutkan dirinya tiruan dan barang palsu? Jawabannya tentu disimpan pada buku ketiga. Seri Alcatraz ini memang patut dinantikan. Karena jawaban yang menggantung akan terkuak di buku selanjutnya.

Rate: 5/5 bintang

Dec 5, 2017

The Rose Society

0


Judul: The Rose Society
Penulis: Marie Lu
Penerjemah: Prisca Primasari
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal: 480 halaman
ISBN: 978-979-433-993-0

Blurb:

Setelah terusir dari Perkumpulan Belati, Adelina Amouteru membuat tandingannya, yakni Perkumpulan Mawar. Di antara para Elite Muda yang berhasil dia rekrut ada Magiano Sang Pencuri dan Sergio Sang Penenun Hujan. Dengan bantuan para Mawar, Adelina bermaksud membalas dendam pada Teren dan Aksis Inkuisisi, serta merebut takhta Kerajaan Kenettra. Ini bukan hal mudah, karena Perkumpulan Belati bekerja sama dengan Maeve, Ratu Beldain yang juga mengincar takhta Kenettra. 

Ketika pertempuran besar semakin dekat, Adelina tidak hanya harus menghadapi musuh-musuh dari luar, tapi juga dari dalam dirinya sendiri. Terkadang dia tidak dapat mengendalikan kekuatan, dan ilusi-ilusi yang dia ciptakan berbalik menyerangnya. Bisakah Adelina menuntaskan aksi balas dendamnya sebelum kegelapan menghancurkan dirinya?

Review: 

Adelina merasa sakit hati setelah dibuang oleh Raffaele dari Perkumpulan Belati. Dulu mereka memang teman. Tapi setelah kematian Enzo, dia didepak begitu saja. Adelina marah. Sekarang, Perkumpulan Belati tak lebih dari pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Mereka adalah musuh, sama seperti Teren yang telah merenggut nyawa Enzo. Adelina pun berniat balas dendam. Dia ingin menunjukkan kalau tak ada seorang pun yang bisa meremehkan dirinya.

Misi balas dendam Adelina dimulai dengan mencari para Elite baru. Dia bertemu Magiano yang bisa meniru kekuatan para Elite lain. Setelah Adelina berhasil membunuh Kaisar Malam, Magiano mulai menaruh minat dan bersedia menjadi rekannya. Adelina juga bertemu Sergio yang mampu mengendalikan hujan. Rupanya selama ini, Sergio menjadi pembunuh bayaran Kaisar Malam. Melihat kekuatan Adelina, Sergio memutuskan untuk menjadi rekan sekutu Adelina.

Bersama Violetta, Magiano, dan Sergio, Adelina resmi membentuk Persekutuan Mawar. Targetnya tak hanya balas dendam, tapi juga merebut takhta Kanettra. Tentu bukan jalan yang mudah. Ada Maeve, Ratu Beldain, sang penyokong Persekutuan Belati yang juga ingin menduduki takhta.

Tipu muslihat mulai dilancarkan Adelina. Dia menghasut Teren dan menenun ilusi demi membalaskan dendamnya. Kekuatan mencipta ilusi Adelina memang semakin kuat, tapi halusinasi yang dialaminya juga makin parah. Para Elite memang memiliki kekuatan dewa. Namun, Adelina tak tahu kekuatan itu pula lah yang kelak akan menghancurkan dirinya.

***

Setelah diusir dari Perkumpulan Belati, Adelina menjadi pribadi yang tak kenal ampun. Bisa dibilang, sikap toleransinya berada di ambang batas. Kenaifannya tak memberinya hal-hal baik yang dia yakini. Sebaliknya, dia merasa dikhianati. Hal inilah yang mengubah karakter Adelina menjadi bengis dan tak berperasaan.

Mengapa bukan aku yang kali pertama menyerang, menampar lebih dulu dengan segenap kemarahan, sehingga musuh-musuhku bertekuk lutut sebelum mereka sempat berpikir untuk melawanku? Apa sih hebatnya menjadi baik hati? (hal. 129)

Di buku pertama diceritakan Adelina terkait dengan hasrat dan ambisi. Menilik dari masa lalunya yang kerap ditindas, wajar jika ambisi Adelina terhadap takhta Kanettra begitu besar. Hasrat ingin diakui memang begitu membekas pada diri Adelina. Hal ini pula yang membuatnya mampu melakukan apa saja, bahkan membunuh siapa pun yang berusaha menghalangi langkahnya.

Seharusnya kehadiran Magiano memberi dampak positif bagi Adelina. Terlebih Adelina merasa nyaman dengan pemuda itu. Sayangnya, Adelina tak mau berpaling dari cinta lamanya, Enzo. Terutama setelah hidup mereka berdua terikat. Sisi egois Adelina inilah yang membuat Magiano kecewa.

"Ya, aku tahu," geramnya sarkastis. "Hanya itu yang kau pedulikan. Kemenanganmu. Pangeranmu. Tak ada lagi yang lain." (hal. 388)

Setelah semua yang terjadi, Adelina terlihat mendamba kekuatannya sendiri. Baginya, kekuatannya adalah segalanya. Hanya saja, makin lama hal ini berdampak buruk untuknya. Bisikan-bisikan jahat terus merongrong dan mengambil alih. Adelina jadi tak bisa berpikir jernih dan terus dicekoki pikiran negatif.

Kau lihat? ujar bisikan-bisikan itu. Makhluk-makhluk yang merangkak di lantai akhirnya menghampiriku, dan sebelum aku bisa menyingkirkan mereka, mereka melompat ke arahku dan memasuki pikiranku. Pikiran-pikiran mereka menggantikan pikiran-pikiranku sendiri. Aku bergidik. (hal. 468)

Buku kedua Trilogi The Young Elites ini memang lebih kelam dari buku pertama. Marie Lu sendiri mengaku kesulitan, karena harus memposisikan dirinya sebagai tokoh jahat yang pikirannya begitu negatif. Ya, tak seperti buku lain, Adelina bukanlah sosok pahlawan. Dia tak dielu-elukan karena menumpas kejahatan. Alih-alih, dia melawan kejahatan dengan kejahatannya sendiri.

Sangat menarik melihat perkembangan karakter Adelina. Di satu sisi, pembaca diajak berempati dengan apa yang telah dialaminya. Tapi, di sisi lain, pembaca tak tahan dengan kekejaman yang dilakukannya.

Tentu kekejaman Adelina bukan tanpa alasan. Sesungguhnya, tak ada manusia yang terlahir jahat begitu saja. Ada faktor pendukung, ada latar belakang di baliknya. Inilah menariknya buku ini. Adelina memberi kesan bahwa dia layak melakukan hal-hal jahat tersebut sebagai kompensasi atas apa yang telah dia alami. Dan kita sebagai pembaca, memahami dengan jelas bagaimana hal itu bisa terjadi.

Novel ini diakhiri dengan dramatis. Adelina berhasil merebut takhta, tapi tak ada kepuasan yang dia rasakan. Hal ini membuat pembaca bertanya-tanya. Seperti apa langkah Adelina selanjutnya? Apa dia akan berubah atau malah makin terjerumus dengan kegelapan?

Jawabannya tentu ada pada The Midnight Star sebagai penutup seri The Young Elites. Seri ini memang layak dikoleksi. Marie Lu berhasil memaknai kegelapan lewat tokoh Adelina dengan versinya sendiri, yang tak hanya mengundang benci, tapi juga simpati.

Rate: 5/5 bintang